» » » » » » Di Rejang Lebong Ada Desa Terisolir


BENGKULU, SemarakNews.co.id - Kota terbesar kedua di Provinsi Bengkulu, yakni Rejang Lebong, yang dikenal juga dengan sebutan Kota Curup, ternyata masih ada Desa yang terisolir.

Permasalahan Desa Tranmigrasi 25 Desa Pal 7 Kecamatan Bermani Ulu Raya (BUR) yang tak pernah tersentuh pembangunan sejak 5 tahun yang lalu, Sekretaris daerah (Sekda) Rejang Lebong (RL), Ir Zulkarnain MT baru bisa menjanjikan akan menggelar rapat lintas SKPD terkait permasalahan terisolirnya 25 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di kawasan tersebut.

“Penanganannya tidak bisa semudah membalikan telapak tangan. Kita akan pelajari dahulu apa saja permasalahan yang ada di sana,” ujar Zulkarnain.

Dikatakan Zulkarnain, dalam waktu dekat, pihaknya akan menggelar rapat lintas SKPD terkait. Mulai dari Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, tenaga kerja dan Transmigrasi, serta pihak kecamatan BUR.

“Dari sana, kita akan tahu kemampuan anggaran yang kita miliki untuk segera membantu masyarakat disana,” ujar Zulkarnain.

Ditambahkan Zulkarnain, untuk pembangunan sarana vital, seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) dan jalan dapat dilakukan sesegera mungkin pembangunan dan perbaikannya menggunakan dana desa.

“Kalau untuk listrik, kita akan lihat kemampuan anggaran yang ada. Tetapi, tidak musti harus dibebankan ke dalam APBD RL. Bisa juga menggunakan dana desa,” ujar Zulkarnain.

Seperti pemberitaan sebelumnya, terhitung sejak tahun 2010 lalu, 25 Kepala Keluarga (KK) dengan total jiwa sebanyak 125 jiwa warga Transmigrasi TSM asal Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta yang ada di lokasi Transmigrasi 25 Desa Pal 7 Kecamatan Bermani Ulu Raya (BUR) terisolir dari program pembangunan dan bantuan pemerintah daerah Rejang Lebong (RL).

Bayangkan saja, sejak 5 tahun lalu, masyarakat belum sama sekali menikmati layanan listrik. Tak hanya itu, fasilitas jalan yang masih berupa jalan pembukaan tanah tersebut membuat warga susah untuk mengeluarkan hasil bumi dan pertanian yang digarapnya. Kondisi ini, membuat masyarakat setempat lebih memilih untuk berjualan makanan ringan dengan cara berkeliling di desa-desa terdekat guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Selain 25 KK warga trans, di lokasi tersebut juga ada 17 KK yang tinggal di petalangan pertanian berjarak 30 meter dari ujung lokasi trans 25 ini pak,” ujar Wagito (60), warga setempat.

Dijelaskan Wagito, lahan garapan yang diberikan pemerintah melalui program Transmigrasi TSM hingga saat ini belum bisa menghasilkan apa – apa. Lantaran ditanami tanaman berupa karet dan sawit. Ini menyusul kondisi tanah yang diberikan masih blukar dan kurang subur untuk dilakukan penanaman sayuran dan lainnya.

“Sejak 5 tahun yang lalu, belum pernah ada bantuan dari pemerintah daerah RL untuk warga disini pak. Baru ada pembangunan jalan hotmix sepanjang 1 Kilometer mulai dari tepi jalan lintas curup muara aman menuju lokasi trans ini. Sisanya sepanjang 4 KM masih berupa tanah dengan lebar 3 meter,” ujar Wagito.

Dilanjutkan Wagito, tidak hanya itu, akses jembatan sepanjang 10 meter yang merupakan akses utama anak-anak untuk pergi ke sarana pendidikan kondisinya juga sudah rusak berat.


“Mulanya, jembatan ini memang terbuat dari papan dengan lebar 3 keping papan yang dibuat secara gotong royong oleh masyarakat. Tetapi, saat ini jembatan tersebut hanya tinggal lebar 1 keping papan dengan kondisi yang lapuk. Sementara, di lokasi ini ada 39 orang anak – anak yang bersekolah dan harus berjalan kaki menuju ke sekolah terdekat yang ada di Desa Pal 7,” ujar Wagito.[**]

Tentang RealitaBengkulu.co.id

RealitaBengkulu.co.id merupakan salah satu portal Media Massa Berbasis Siber (Online) yang siap menyajikan Berita yang Aktual, Akurat dan Mampu Dipertanggungjawabkan dengan harapan berita yang disajikan RealitaBengkulu.co.id bisa menjadi referensi dan pelengkap informasi Anda
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply