» » » » Tidak Termasuk Dalam 5 Profesi yang "Diselamatkan" RSUD Curup, Profesi Perawat dan Bidan Hanya Pasrah


BENGKULU, SemarakNews.co.id - Keputusan pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Rejang Lebong untuk memangkas tenaga honorer di setiap instansi dirasa sangat merugikan banyak honorer yang selama ini telah bekerja bertahun-tahun. Hal ini banyak dikeluhkan oleh Perawat dan Bidan yang telah mengabdi di RSUD Curup yang akhirnya harus dirumahkan oleh pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Curup.

Salah seorang perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Curup, Fitrianti Yuliana (29) mengaku telah bekerja sebagai honorer sekitar 7 tahun juga harus dirumahkan oleh RSUD Curup. Ia mengatakan bahwa selain dirinya, puluhan perawat dan bidan juga akan dirumahkan pada Senin (18/4/2016) merasa sangat kecewa dengan kebijakan ini. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak, karena sebelum honorer di jajaran RSUD Curup dirumahkan, honorer di instansi pemerintah daerah pun telah lebih dulu dirumahkan. Hal ini dilakukan karena merupakan himbauan pemerintah pusat ke daerah untuk memangkas tenaga honorer yang dinilai tidak perlu dan untuk meningkatkan kinerja dari Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Harapan kami setelah ini, bisa secepatnya direkrut kembali untuk bekerja. Jangan terlalu lama, jika memang pihak RSUD Curup masih memerlukan tenaga perawat dan bidan. Karena kami khawatir, jika terlalu lama dirumahkan atau kami bekerja dengan profesi yang berbeda, ilmu keperawatan yang kami miliki tidak ada tempat mengaplikasikannya lagi," jelasnya.

Fitri juga mengatakan bahwa sangat rugi jika ilmu yang dipelajari selama bertahun-tahun di bangku kuliah tidak diaplikasikan. Karena akan banyak keahlian bidang perawatan yang akan lupa bahkan hilang.

Diwawancarai terkait rencana setelah dirumahkan, Fitri tak banyak berkomentar, ia hanya berharap pihak RSUD Curup merekrut kembali dirinya untuk diangkat menjadi tenaga honorer.

Diwawancarai terpisah, Kepala Instalasi Gizi RSUD Curup, Yosefine Aprilia malah bersyukur, karena di instalasi yang ia pimpin masih ada honorer yang akan bertahan, walaupun hanya 14 orang, yakni terdiri dari 7 orang pramusaji dan 7 orang juru masak. Saat ini di instalasi gizi, tercatat ada 23 honorer, itu berarti dari kuota yang disampaikan oleh Direktur RSUD Curup soal honorer yang dipertahankan, maka akan ada 9 orang yang harus dirumahkan oleh pihak RSUD Curup di bagian instalasi gizi.

Yosefine mengatakan, walaupun akan ada pengurangan tenaga honorer di bagian yang ia pimpin, Yosefine tetap optimis pekerjaan yang mereka laksanakan akan tetap berjalan lancar, karena pada instalasi gizi tersebut masih terdapat sekitar 25 PNS yang bertugas di intalasi tersebut.

"Walaupun akan ada kekurangan tenaga di instalasi gizi, pelayanan akan tetap kami optimalkan. Pasien tidak perlu tau apakah di instalasi gizi dan bagian lainnya kekurangan atau kelebihan tenaga, yang pasien harus ketahui bahwa pelayanan di RSUD Curup tetap sama kualitasnya, tidak menurun, walaupun akan ada pengurangan ratusan tenaga honorer," himbau Yosefine.

Selain itu, ada juga bagian Laundry yang tak satupun tenaga honorernya dirumahkan. kebijakan ini dilakukan oleh RSUD Curup, mengingat pekerjaan laundry ini sangat fatal jika dikurangi. Saat ini hanya ada 8 orang yang terbagi menjadi 4 shift, yakni 2 orang shift pagi, 2 orang pada siang hari, 2 orang pada sore hari, dan 2 orang pada malam hari.

Salah seorang petugas laundry RSUD Curup, Susilawati (34), warga Desa Pulogeto Baru Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang mengaku masih kewalahan mengerjakan tugasnya di RSUD Curup. Pasalnya, jika saat ia bertugas banyak pasien yang operasi, maka pekerjaan cuciannya akan sangat banyak, ditambah lagi mesin cuci yang kinerjanya sudah tidak normal lagi. Hanya ada 3 mesin cuci di ruang laundry tersebut, 2 mesin cuci terlihat sudah sangat tua dan sering macet, dan 1 mesin cuci yangbaru dengan teknologi mesin yang cukup baik, namun kemampuan cucinya sangat lama, terkadang hingga setengah hari baru selesai mencuci satu kali cuci saja dengan mesin tersebut.

"Kalau mesin yang besar dan terbaru itu jarang dipakai, karena nyuci nya sangat lama. Memang, jika pakai mesin baru itu tinggal tarok saja cuciannya, dan bisa tinggal angkat, karena sudah serba otomatis, tapi sangat lama, makanya jarang kami gunakan," kata Susilawati.

Disinggung soal upah yang ia terima, Susilawati mengatakan bahwa upah yang mereka terima per masing-masing orang berbeda-beda.

"Kisaran Rp. 200-300 ribu per bulan, ada yang statusnya honorer kontrak, tapi kalau saya masih TKS (tenaga sukarela)," jelasnya.[**]

Tentang RealitaBengkulu.co.id

RealitaBengkulu.co.id merupakan salah satu portal Media Massa Berbasis Siber (Online) yang siap menyajikan Berita yang Aktual, Akurat dan Mampu Dipertanggungjawabkan dengan harapan berita yang disajikan RealitaBengkulu.co.id bisa menjadi referensi dan pelengkap informasi Anda
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply