Peran Duta Baca dalam Pengembangan Literasi dan Budaya Baca



Oleh: Rhoni Rodin
Pendahuluan
Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 29 Juli 2019 diadakan acara Sosialisasi Kegiatan Dukungan Duta Baca Propinsi Bengkulu Tahun 2019 di Desa Karang Jaya Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu, yang mengambil tema ”Melalui gemar membaca dan perpustakaan bergerak kita ciptakan masyarakat sejahtera”. Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan yang terdiri dari pelajar dan masyarakat umum. Kegiatan ini tentunya merupakan kegiatan yang positif dalam rangka membangkitkan serta menumbuhkan minat dan budaya baca serta pengembangan literasi masyarakat Indonesia, khususnya di daerah Kabupaten Rejang Lebong dan Propinsi Bengkulu. Segala pihak tentunya menyambut baik kegiatan positif ini. Kita berharap pemerintah daerah baik kabupaten/ kota dan propinsi pun ikut terpanggil untuk merencanakan kegiatan yang serupa, yaitu kegiatan gemar membaca dalam rangka meningkatkan budaya baca dan literasi masyarakat kita.

Kegemaran membaca merupakan aktivitas yang mudah sebenarnya, akan tetapi sulit untuk meluangkan waktu untuk melaksanakannya. Apalagi, di era kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini, sehingga membaca tidak lagi menjadi sebuah rutinitas hidup melainkan kerjaan sampingan saja. Ketidak-gemaran membaca membuat kita terasa amat kecil, dunia terasa sempit dikarenakan sedikitnya informasi yang kita peroleh. Padahal, informasi dan ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu semakin lama semakin bertambah pesat. Bagaimana dengan kita manusia Indonesia? Akankah kita akan tertinggal jauh dari perkembangan zaman? Kita sebagai manusia, yang diberi akal yang lebih baik dibanding makhluk lain seharusnya mampu menelaah lebih dalam tentang ilmu pengetahuan yang tak pernah habis walaupun kita menggalinya. Dan membaca merupakan salah satu sarana untuk mencapai itu semua. Sekarang, tinggal bagaimana cara kita untuk menumbuhkan kegemaran membaca dimanapun kita berada.

Budaya Gemar MembacaBudaya tercipta atau terwujud merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di alam raya ini. Budaya berangkat dari kebiasaan. Sesuatu yang dibiasakan untuk dilakukan, maka lama kelamaan akan membudaya atau mengkarakter dalam diri seseorang. Begitu juga kegemaran membaca. Ketika membaca sudah menjadi kebiasaan, maka selanjutnya kegiatan membaca akan membudaya atau menjadi karakter seseorang. Oleh karena sudah membudaya, maka ketika satu hari saya dia tidak membaca, maka dia merasakan ada suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi baginya di hari itu.

Budaya gemar membaca yang tinggi merupakan ciri sebuah negara yang maju. Sementara di negara Indonesia, budaya membaca masih jauh dari apa yang diharapkan bahkan masih tergolong sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah diantara 52 negara di Asia Timur (Bambang Murdianto). Budaya lisan dan budaya dengar masih sangat kental menjadi bagian dari keseharian masyarakat bangsa ini. Untuk merubah budaya lisan dan budaya dengar di negeri ini haruslah dilakukan bersama dan dimulai dari nol, yaitu mulai dari diri sendiri.

Penelitian Bloom mengungkapkan, saat berusia empat tahun, anak berada dalam periode suka meniru perbuatan orang tuanya tanpa terkecuali. Jadi dapat diharapkan, jika orang tua suka membaca, anak juga akan melakukan hal yang sama. Sebagai contoh, jika sejak kecil anak sudah dibiasakan dengan bacaan (sastra), mereka akan didekatkan dengan kehidupan manusia (Bunanta, 2004). Dengan membaca karya sastra seperti cerpen, puisi, dan lain-lain, mereka akan belajar banyak hal dan memuliakan perasaan (Kartono, 2001). Dengan kebiasaan anak gemar membaca maka dalam proses pembelajaran akan lebih maksimal.

Orang yang gemar membaca maka pola pikir dan wawasan mereka pasti berbeda dengan orang yang enggan membaca. Pepatah bahwa membaca adalah jendela dunia tampaknya memang benar adanya. Oleh karena itu, kebiasaan gemar membaca harus dipupuk sedini mungkin mulai dari lingkungan keluarga agar di dalam diri anak tertanam kemauan dan tekad untuk gemar membaca. Kegemaran membaca itulah yang harus dibudidayakan agar tercipta budaya membaca di negeri ini.

Menurut Daniel Willingham, ada dua tips untuk menumbuhkan dan membudayakan kegemaran membaca, yaitu : Pertama dan utama adalah Keteladanan. Kedua orang tua harus meneladankan gemar membaca. Jika orangtua gemar menonton TV, anak akan menjadi penonton TV. Jika orangtua tak punya variasi kegiatan selain bermain dengan gawai (gadget), anak akan tumbuh bersama gawai pula. Kalau Ayah Ibu menginginkan anak yang gemar membaca, gemarlah membaca terlebih dahulu. Teladan ini bahkan dapat ditunjukkan sebelum anak belum bisa membaca. Saat anak melihat orangtua ataupun saudaranya menikmati membaca, anak akan tertarik pada kegiatan tersebut. Membacakan buku cerita saat berkumpul bersama keluarga bisa menjadi salah satu kegiatan.

Kedua yang disarankan oleh Daniel Willingham adalah membuat membaca sebagai kegiatan yang paling menyenangkan. Anak bisa jadi punya berbagai kegemaran, dan saat bermain game dirasa lebih menyenangkan ketimbang membaca, anak akan memilih bermain game. Langkah awal yang ditawarkan Daniel Willingham adalah meletakkan buku atau bacaan lain di tempat-tempat anak cenderung bosan, di mobil misalnya. Langkah lain yang bisa kedua orang tua lakukan adalah dengan tidak selalu menyediakan hiburan cepat saji (gawai, misalnya) di setiap kesempatan.

Singkatnya, berikan kesempatan pada anak untuk melihat, mencoba, dan merasakan sendiri nikmatnya gemar membaca, dan tanyakan kembali apa kisah atau wawasan seru yang didapatnya setelah membaca. Semua tentu saja dimulai dengan sikap Ayah Ibu terhadap kegiatan membaca.

Duta Baca dan Pengembangan Literasi
Sosialisasi Kegiatan Dukungan Duta Baca beberapa waktu yang lalu merupakan salah satu bentuk ikut andilnya seorang duta baca dalam menumbuhkan dan membudayakan kegemaran membaca di masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, serta masyarakat dengan berbagai lini kehidupannya, baik siswa, guru, pustakawan, karyawan dan sebagainya, kesemuanya terlibat dalam kegiatan Sosialisasi Kegiatan Dukungan Duta Baca tersebut. Kita tentunya memberikan apresiasi yang sangat tinggi. Kegiatan ini tentunya merupakan kegiatan yang positif dalam rangka membangkitkan minat dan budaya serta literasi baca masyarakat Indonesia, khususnya di daerah Kabupaten Rejang Lebong. Segala pihak tentunya menyambut baik kegiatan positif ini. Kita berharap pemerintah daerah baik kabupaten/ kota dan propinsi pun ikut terpanggil untuk merencanakan kegiatan yang serupa. Karena sinergitas antara pemerintah dengan masyarakat sangat penting untuk menumbuhkan kegemaran membaca.

Seorang Duta Baca bukan hanya sekedar menyandang prediket saja sebagai duta baca, akan tetapi seorang duta baca memiliki tugas untuk menumbuhkan sikap gemar membaca buku terutama bagi anak-anak Indonesia. Melalui berbagai media, seorang duta baca terus mengampanyekan kegiatan membaca kepada masyarakat. Seorang Duta Baca diharapkan menjadi panutan dan memotivasi minat baca masyarakat yang masih kurang.

Akhirnya kita berharap, semoga acara Sosialisasi Kegiatan Dukungan Duta Baca Propinsi Bengkulu Tahun 2019 ini tidak hanya sekedar seremonial belaka. Tetapi lebih dari sekedar itu, kita berharap semoga kegiatan ini bisa memantik semangat membaca masyarakat kita, serta bisa menumbuhkan minat dan budaya serta literasi baca masyarakat yang ada di Propinsi Bengkulu khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sejatinya kegiatan positif ini menjadi contoh bagi daerah lain untuk melakukan kegiatan yang sama. Kita berharap, semoga gemar membaca terus mengakar di sanubari masyarakat kita. Gemar membaca dimulai dari diri sendiri, anggota keluarga, dan masyarakat. Dengan membudayanya kegemaran membaca tersebut diharapkan minat dan budaya baca masyarakat kita meningkat. Semoga !!!

*) Penulis adalah Pustakawan IAIN Curup. Pustakawan Berprestasi Tingkat Nasional. Peserta Short Course DELSMA ke Jerman.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.