Pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam


Oleh: Rhoni Rodin

BEBERAPA waktu yang lalu, tepatnya tanggal 3-5 Juli 2019 telah diselenggarakan suatu kegiatan yang sangat penting dan monumental dalam sejarah Perpustakaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Kegiatan tersebut adalah koordinasi penyusunan grand design pengembangan Perpustakaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Kegiatan ini diikuti oleh para alumni DELSMA (Development of Library System Management), dimana para alumni DELSMA ini sebelumnya telah mengikuti serangkaian kegiatan short course tentang perpustakaan di beberapa perpustakaan di luar negeri yaitu tahun 2015 (Australia), 2016 (Australia) dan 2017 (Jerman).

Berbekal pengalaman para peserta alumni DELSMA tersebutlah, maka Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, dalam hal ini Subdit Ketenagaan mengundang para alumni DELSMA dan didampingi oleh beberapa pakar di bidang perpustakaan dan kepustakawanan, akan merancang grand design pengembangan Perpustakaan PTKI untuk jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam yaitu Bapak Prof. M. Arskal Salim GP.

Dalam sambutannya Prof. M. Arskal Salim GP menyatakan bahwa maksud dan tujuan diselenggarakannya Penyusunan Grand Design Pengembangan Perpustakaan PTKI adalah: (1) Untuk mencanangkan program pengembangan perpustakaan PTKI selama lima tahun ke depan; (2) Meningkatkan mutu layanan dalam perpustakaan; (3) Sebagai Wahana pedoman dalam pengembangan perpustakaan di PTKI; (4) Meningkatkan kinerja pengelola perpustakaan; (5) Sebagai barometer keberhasilan pengembangan perpustakaanPTKI; (6) Sebagai alat pembinaan dalam pengembangan perpustakaan PTKI.

Kondisi saat ini
Perguruan Tinggi Agama Islam saat ini menghadapi tantangan dan perubahan yang sangat cepat, antara lain ditandai dengan tuntutan peningkatan mutu lulusan, manajemen pengelolaan yang modern dan professional serta akuntabilitas yang lebih besar dan transparan bagi masyarakat. Untuk merespon tuntutan tersebut, Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) harus didukung oleh perpustakaan yang memadai guna memberikan referensi yang akurat serta ilmiah. Selama ini sering didengungkan jargon Perpustakaan adalah Jantung dari Perguruan Tinggi. Peran jantung menentukan hidup dan matinya sebuah perguruan tinggi. Akan tetapi mayoritas perpustakaan perguruan tinggi agama Islam belum berfungsi dengan baik karena penyelenggaraannya tidak sesuai dengan standar (lihat: survey 2010). Untuk mengatasi hal tersebut, Grand Design pengembangan perpustakaan perguruan tinggi yang akan menjadi skala prioritas pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Agama Islam tahun 2019-2024 pun dibuat. Grand Design pengembangan perpustakaan PTKI ini dibuat berdasarkan asas keberlanjutan dari grand design 2012-2015 yang mengutamakan unsur infrastruktur, manajemen, dan teknologi informasi, dimana tujuan akhirnya adalah Perpustakaan PTKI yang berstandar nasional. Grand design tersebut telah menghasilkan perubahan yang signifikan akan tetapi perubahan yang signifikan tersebut perlu ditindaklanjuti agar pengembangan perpustakaan PTKI bisa menjadi lebih terarah dan berkelanjutan. Beberapa hal yang melatarbelakangi perlunya Grand Design pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Agama Islam ini antara lain Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, belum terwujudnya jejaring perpustakaan dalam rangka resource sharing dan perlunya peningkatan kekuatan potensi perpustakaan perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Berdasarkan evaluasi perpustakaan PTKIN yang dilakukan oleh Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam tahun 2019 terhadap 6 (enam) komponen akreditasi perpustakaan maka diperoleh beberapa informasi, misalnya dari segi komponen sarana dan prasarana diperoleh informasi bahwa dalam hal luas gedung/ruang perpustakaan, dari 46 PTKIN yang dievaluasi, ada 27 (58,70%) perpustakaan yang mempuntai luas 1500 m2 atau lebih, sedangkan 19 (41,30%) lainnya berada dibawah standar nasional perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada perpustakaan PTKIN yang belum memenuhi standar nasional perpustakaan perguruan tinggi dalam hal gedung/ ruang perpustakaan. Kemudian jika dilihat dari komponen tenaga perpustakaannya, dalam hal ini status kepala perpustakaan. Diperoleh data bahwa dari 46 perpustakaan PTKIN, ada 24 (52,17%) perpustakaan dipimpin oleh fungsional pustakawan (profesional), sedangkan sisanya 22 (47,83%) perpustakaannya dipimpin oleh fungsional selain pustakawan. Hal ini mengindikasikan bahwa masih ada kepala perpustakaan PTKIN dipimpin oleh orang yang bukan fungsional pustakawan. Berdasarkan evaluasi tersebut, tentunya menjadi landasan bagi Diktis kemenag dan APPTIS dalam menyusun grand design pengembangan perpustakaan PTKI lima tahun ke depan.

Grand Design Perpustakaan

Al-Quran mempunyai konsep yang jelas terkait perencanaan masa depan. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Hasyr : 18). Ayat ini merupakan gambaran nyata bagi kehidupan sehari-hari bahwa perencanaan merupakan hal yang penting dilakukan sebelum semua proses kegiatan dilakukan. Tanpa melakukan perencanaan diawal maka tujuan dari kegiatan yang dilaksanakan tidak akan berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Artinya, hanya sebuah angan-angan kosong yang didapatkan jika berharap kegiatan yang akan dijalankan berjalan dengan baik dan mengharapkan sesuatu yang lebih dari kegiatan tersebut tanpa diawali dengan perencanaan yang sistematis.

Sebagai dari bagian manajemen, perencanaan merupakan suatu hal yang tidak dapat terpisahkan dari pelaksanaan kegiatan baik dalam suatu lembaga ataupun organisasi. Karena hal tersebut sangat menentukan keberhasilan dari program yang telah dicanangkan. Dari sekian banyak lembaga atau organisasi, perpustakaan merupakan salah satu organisasi yang senantiasa tumbuh (growing organism) juga tidak lepas dari perencanaan. Apalagi salah satu kegiatan yang terpenting di perpustakaan berkaitan dengan pengelolaan.

Tujuan pengelolaan perpustakaan adalah untuk mencapai kondisi ideal atau sesuai harapan pemustaka, yaitu koleksi dengan kuantitas dan kualitas yang memadai, sistem temu balik yang konsisten dan mudah digunakan oleh pemustaka, layanan dan kegiatan yang memberikan nyawa bagi seluruh informasi yang dikelola, ruangan yang nyaman, serta terpenuhinya kebutuhan informasi pemustaka. Kondisi ideal ini akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya lembaga induk yang membawahi suatu perpustakaan. Jadi, akan banyak titik tujuan yang harus dicapai.

Namun, perkembangan lingkungan perpustakaan yang terus berubah dengan cepat, ditunjang percepatan teknologi informasi yang cepat pula membutuhkan perencanaan matang agar perpustakaan tidak terjebak dengan kondisi yang dihadapi dan tetap fokus dengan tujuannya. Perpustakaan yang memiliki visi, misi, dan strategi kuatlah yang akan siap mengikuti perkembangan ini. Bahkan dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan informasi di Indonesia.

Oleh karena itu, perpustakaan perlu memiliki perencanaan yang kuat melalui Grand Design Perpustakaan. Grand Design perpustakaan bukanlah sekedar dokumen perencanaan bagi perpustakaan, namun menjadi landasan perpustakaan untuk melangkah menghadapi perkembangan lingkungan yang terus berubah sehingga tidak mudah terombang-ambing menghadapi perkembangan tersebut. Perpustakaan memiliki arah jelas, apa sasaran dan hasil yang diharapkan atas berbagai program dan kegiatan yang dilakukan.

Appleburry (1992:8) meramalkan bahwa ketersediaan informasi yang berkembang cepat seperti saat ini akan mengalami kemajuan dua kali lipat dalam setiap 73 hari pada tahun 2020. Informasi yang serba instant ada dimana-mana. Informasi tidak hanya tersedia tetapi dapat disimpan, disalin, dipindahkan bahkan dimodifikasi secara otomatis pula.

Menyikapi hal tersebut, Perpustakaan Perguruan Tinggi Agama Islam sebagai penyedia sekaligus pengelola jasa informasi, mau tak mau harus meningkatkan kualitas pelayanannya jika tidak ingin ditinggalkan oleh penggunanya. Kebutuhan pemustaka akan informasi meningkat dari waktu ke waktu. Kalau dulu pengguna membutuhkan informasi yang akurat, maka kini pengguna menuntut perpustakaan memenuhi kebutuhan informasi yang tepat, cepat dan sekarang juga. Paradigma pengelolaan perpustakaanpun banyak yang sudah berubah. Dari kepemilikan koleksi menjadi akses terhadap koleksi. Dari yang memfokuskan pengelolaannya pada fasilitas menjadi kepada sumber daya manusianya. Pergeseran paradigma tersebut tidaklah bisa terlepas dari peran teknologi Informasi sebagai alat mutlak utamanya di bidang pengolahan data. Untuk bisa menggunakan Teknologi Informasi diperlukan perencanaan yang matang. Untuk bisa melakukan perencanaan yang matang, diperlukan manajemen yang profesional. Tanpa manajemen yang profesional, teknologi informasi hanya akan berlangsung singkat saja karena tidak ada sistem yang membuat teknologi tersebut bisa berjalan lancar. Teknologi sudah terpasang tetapi sumber daya manusia yang menjalankannya ternyata pindah kerja, maka teknologi hanya menjadi pajangan saja karena tidak ada yang menjalankannya. Situs perpustakaan telah terpasang dengan indahnya tetapi ketiadaan seorang content manager di situs tersebut maka situs tersebut dibiarkan tak ter-update berbulan-bulan lamanya. Sistem Informasi perpustakan sudah terpasang tetapi pengembangan sistem untuk kebetuhan-kebutuhan baru tak tersedia, maka sistem informasi perpustakaan ada di perpustakaan tapi menjadi usang dengan sendirinya. Oleh karena itu penerapan teknologi Informasi perlu didasari oleh sistem manajemen yang kokoh. Sistem manajemen yang kokoh ini harus ditunjang oleh sumber daya manusia.

Hal ini mengindikasikan bahwa peran sumber daya manusia (SDM) dengan kekayaan intelektualnya menjadi sangat penting. Fasilitas termasuk teknologi akan tidak terawat kalau tidak ada sumber daya manusia yang bisa mengelolanya dengan baik. Sebaliknya dengan sumber daya manusia yang berkualitas, bisa menghasilkan fasilitas yang yang tangible dengan membuat proposal dan juga pengelolaan perpustakaan yang bertanggung jawab. Apabila sumber daya manusia yang ada di perpustakaan bisa dikelola dengan manajemen yang profesional, maka pelayanan perpustakaan akan bisa meningkat sesuai dengan kebutuhan pengguna. Berdasarkan uraian di atas, maka Grand Design Pengembangan Perpustakaan PTKI 2019-2024 akan memprioritaskan pada 6 (enam) hal yaitu koleksi, saranan dan prasarana, pelayanan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan, dan penguat. Enam komponen ini akan dipetakan skala prioritas yang akan dilakukan oleh pihak subdit ketenagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dalam pengembangan perpustakaan PTKI. Sehingga dengan adanya pemetaan skala prioritas ini maka kegiatan akan terlaksana secara terstruktur dan terencana.

Semoga dengan adanya grand design pengembangan perpustakaan PTKI ini bisa memberikan garis-garis besar haluan pengembangan perpustakaan perguruan tinggi Islam dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Dan tentunya, harapan kita semua dengan adanya grand design ini akan memberikan dampak yang positif bagi kemajuan perpustakaan dan kepustakawanan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Semoga !!!

*) Penulis adalam Pustakawan IAIN Curup. Tutor UT UPBJJ Palembang. Pustakawan Berprestasi tingkat Nasional.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.