Diduga Kuat Lakukan Pungli, Mahasiswa IAIN Curup Pertanyakan Aturan Punggutan Selain UKT


Realita Bengkulu - REJANG LEBONG. Setelah laksanakan aksi demo pada Selasa, 10 Desember 2019 yang juga bertepatan dengan peringatan hari Anti Korupsi Sedunia, peserta Aksi Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu pada Rabu, 11 Desember 2019 melaksanakan dialog terbuka yang dihadiri oleh Rektor IAIN Curup, Dr. Rahmad Hidayat beserta jajarannya.

Dalam dialog tersebut, pihak Rektorat IAIN Curup menanggapi satu per satu setiap tuntutan mahasiswa yang menjadi pokok dari Aksi demo pada Selasa pagi tersebut. Namun, dialog ditutup dengan belum tuntasnya permasalahan-permasalahan yang menjadi tuntutan mahasiswa. Seperti penjelasan pihak IAIN Curup terkait mangkraknya pembangunan Akademik Centre dengan anggaran hingga lebih dari Rp 26 Miliar tersebut, pihak IAIN Curup hanya menyampaikan, Akademik Centre sudah dilakukan penyelidikkan oleh pihak Polda Bengkulu.

Baca Juga: Hari Anti Korupsi Sedunia, Mahasiswa Demo IAIN Curup

"Kasus mangraknya Akademik Centre, pihak IAIN Curup telah menyerahkan prosesnya kepada pihak Polda Bengkulu. Untuk saat ini, status kasus tersebut kita serahkan saja kepada pihak berwajib," sampai Dr. Rahmad Hidayat selaku Rektor IAIN Curup.

Selain itu, pihak IAIN Curup juga meminta waktu yang belum dapat ditentukan untuk menyikapi tuntukan mahasiswa terkait dugaan beberapa pungutan liar yang dilakukan pihak IAIN Curup. Mahasiswa mempertanyakan aturan jelas atau surat resmi dari pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Dirjen Diktis) RI ataupun Kementerian Agama terkait legalitas dari punggutan selain Uang Kuliah Tunggal (UKT), seperti biaya saat mahasiswa akan melaksanakan seminar proposal sebesar Rp 50 ribu, biaya pembuatan kartu perpustakaan sebesar Rp 200 ribu per mahasiswa dan biaya pelaksanaan tes TOEFL/TOAFL yang mencapai Rp 300 ribu.

"Misalnya, biaya untuk tes dan sertifikan TOEFL/TOAFL yang kami ketahui itu sebesar Rp 75 ribu, bukan Rp 300 ribu. Sedangkan Rp 225 ribu menurut pihak IAIN Curup digunakan untuk biaya pelatihan, namun aturannya terkait biaya tambahannya sebesar Rp 225 ribu tersebut tidak pernah dijelaskan aturannya. Ditambah lagi dengan biaya pembuatan kartu perpustakaan, yang menurut kami anggarannya itu sudah ada dari DIPA IAIN Curup setiap tahunnya, tidak dipungut lagi dari mahasiswa," jelas seorang mahasiswa IAIN Curup (Nara Sumber meminta redaksi RealitaBengkulu.co.id untuk merahasiakan namanya. Sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik Pasal 7).

Dikonfirmasi melalui sarana WhatsApp, Wakil Rektor II IAIN Curup, Dr. Hamengkubuwono menepis seluruh dugaan Pungli tersebut. Menurut penjelasannya, seperti biaya saat Seminar proposal mahasiswa itu tidak dipungut biaya, uang Rp 50 ribu tersebut adalah inisiatif mahasiswa yang sedang seminar dipergunakan untuk konsumsi pihak penguji.

"Tentang biaya pembuatan kartu perpustakaan sebesar Rp 200 ribu itu sudah ada regulasinya, dana itu dipergunakan untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan yang baru membayar itu baru 6 orang mahasiswa. Semua itu sudah ada Kepres yang mengatur besaran tarifnya untuk PNBP, jadi tidak ada yang sifatnya Pungutan Liar," tegas Warek II IAIN Curup, Dr. Hamengkubuwono.

Jurnalis: Selamet Sugiharto
Editor: Selamet Sugiharto

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.