Meninggal Dunia Diduga Terpapar Covid-19, Keluarga dan Masyarakat Tidak Terima


BENGKULU, Kaur - Pada Jum'at (26/06/20), seorang ibu rumah tangga atas nama Lisda Suryati warga Desa Tinggi Ari Kecamatan Tanjung Kemuning meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hasanuddin Damrah Manna.

Sebelum dirujuk ke Manna, Alm. Lisda dirawat di RSUD Cahaya Bathin Kaur dengan diagnosa sakit demam berdarah (DBD). Lisda dirawat selama 6 hari, karena kondisi pasien belum ada perubahan, Yusan suami Alm. Lisda mengajukan kepada dokter agar istrinya dirujuk ke RSUD Manna, dan dokter menjelaskan jika dirujuk ke Manna, Alm. Lisda pasti diisolasi pihak rumah sakit.

Yusan menyanggupi yang dijelaskan sang dokter tapi sebelum dirujuk, Lisda dirapid test dan hasilnya negatif. Setelah hasil negatif, Lisda dirujuk ke RSUD Manna.

Sesampai di Manna, Lisda pun dirapid test ulang dengan hasil reaktif diduga Covid-19, Lisda pun akhirnya diisolasi. Lisda dirawat selama 3 hari di RSUD Manna dan tepatnya Pada Jum'at sekira pukul 11:30 WIB Lisda pun meninggal dunia.

Pihak keluarga ingin membawa pulang jasad ke Desa Tinggi Ari tetapi pihak rumah sakit belum bisa mengizinkan pihak keluarga membawa jasad karena mematahui prosedur kesehatan yang diduga covid-19, tetapi pihak keluarga tidak menerima dengan hasil yang dikeluarkan pihak rumah sakit.

Untuk diketahui Alm. Lisda selama hidup siketahui masyarakat tidak pernah ada perjalanan jauh dalam beberapa bulan ini, kegiatan Alm. Lisda hanya  di rumah dan bekerja ke kebun, itulah alasan pihak keluarga sangat yakin bahwa Lisda murni sakit DBD.
"Yang membuat kami heran kan ada salah satu media yang ada di Manna memberitakan Lisda meninggal dengan status reaktif yang di foto dengan mobil jenazah dengan warna putih dan yang anehnya mobil jenazah berubah menjadi orange di lokasi rumah duka, pihak keluarga dan masyarakat Desa Tinggi Ari menolak penguburan yang dianjurkan oleh pihak rumah sakit," ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Malah berkembang isu kecurigaan di masyarakat, pasien hanya dijadikan sebagai alat permainan pihak tidak bertanggungjawab terkait Pandemi covid-19.

Jurnalis: Andi Saputra

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.