Berita

Banjir Sumatera: Petani Sawit Jalani Ritme Kerja Baru Pasca-Air Surut

Advertisement

Beberapa hari setelah banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera, aktivitas petani sawit kini memasuki fase pemulihan. Jejak air masih terlihat jelas di kebun-kebun sawit, ditandai dengan endapan lumpur di jalur panen dan parit, serta tumpukan pelepah dan material terbawa arus di antara barisan pohon. Peralatan kerja yang sempat terendam kini dijemur di halaman rumah, menunggu kondisi memungkinkan untuk kembali digunakan.

Masri (40), seorang petani sawit di Pidie Jaya, Aceh, merasakan perubahan signifikan dalam rutinitas hariannya. Sejak banjir menerjang, kebun sawit yang telah ia kelola selama puluhan tahun tidak lagi berjalan seperti sedia kala. Pagi hari, Masri kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling kebun, mengecek kondisi tanah, parit, dan jalur panen sebelum menentukan pekerjaan yang bisa dilakukan.

“Kalau saya petani itu memang masih muda, Pak. Umur saya sekarang 40 tahun. Saya mulai bertani sejak umur 24,” ujar Masri, menjelaskan pengalamannya bertani sawit.

Masri mengelola dua blok lahan sawit seluas sekitar 20 hektare. Kondisi pascabanjir membuatnya harus berhadapan dengan sisa-sisa material yang terbawa dari perbukitan hingga ke pesisir. “Kalau untuk luas, kita kan bukan perusahaan besar. Jadi minimal berkapling, berblok. Kalau saya ada dua blok, sekitar 20 hektare lah,” katanya.

Rutinitas yang Bergeser

Banjir telah menggeser jadwal kerja Masri. Waktu yang biasanya dialokasikan untuk panen tandan buah segar (TBS), perawatan tanaman, dan pengangkutan hasil kebun, kini lebih banyak terfokus pada pekerjaan pemulihan. Membersihkan lumpur di jalur panen, memastikan fungsi parit kembali normal, dan merapikan area kebun menjadi prioritas utama.

Jadwal kerja menjadi tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi lapangan. Selain berkebun, Masri juga memiliki pekerjaan sampingan yang terpaksa terhenti akibat banjir. Akses menuju lokasi kerja belum sepenuhnya pulih. “Ada sampingan juga, saya biasanya juga bekerja di pasar-pasar. Cuma saat ini hilang dan belum bisa diakses,” tuturnya.

Advertisement

Dampak pada Pekerjaan dan Kehidupan Sehari-hari

Salah satu dampak paling krusial bagi Masri adalah terputusnya akses menuju kebun. Beberapa jalur sempat tertutup akibat longsor dan baru bisa diperbaiki setelah sekitar seminggu. Selama periode tersebut, Masri terpaksa menunda berbagai aktivitas di kebun, termasuk pengangkutan hasil panen.

“Kita memantau aksesnya dulu, karena akses di kebun itu sempat longsor juga kemarin,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa jembatan di sekitar kebun sempat roboh, menghambat pengangkutan buah sawit ke perusahaan.

Seiring perbaikan jalur, aktivitas pengangkutan kini mulai kembali berjalan. Namun, Masri tetap berhati-hati dalam mengatur ritme kerja untuk menghindari risiko. Di lingkungan tempat tinggalnya, dampak banjir juga masih terasa dengan adanya endapan lumpur, terutama di kawasan pesisir akibat material dari daerah berbukit.

Menunggu Waktu untuk Kembali

Menjelang sore, Masri meninggalkan kebunnya, hanya membawa alat kerja dan catatan kecil mengenai bagian kebun yang perlu dibenahi keesokan hari. Aktivitas panen belum sepenuhnya kembali normal, menunggu kondisi lahan benar-benar memungkinkan.

Masri mengaku masih merasakan kelelahan dan kekhawatiran terhadap kondisi kebun yang belum sepenuhnya pulih. Ia memilih bersabar, berharap akses dan lahan segera stabil agar aktivitas di kebun dapat berjalan seperti biasa. Bagi Masri, banjir tidak hanya meninggalkan genangan dan lumpur, tetapi juga jeda dalam ritme kesehariannya, memaksa hari-hari dijalani dengan langkah lebih hati-hati sambil menata ulang kebun dan aktivitas yang sempat terhenti.

Advertisement