Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Minggu (25/1/2026). Dalam pidatonya, Gus Ipul menekankan pentingnya penguatan basis data penyandang disabilitas sebagai kunci agar intervensi pemberdayaan dari pemerintah dapat tersalurkan secara tepat sasaran.
Membangun Bangsa yang Inklusif
Gus Ipul mengutip pernyataan yang menegaskan esensi pembangunan bangsa. “Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling cepat berlari, tetapi bangsa yang memastikan tidak ada satu pun warganya tertinggal di belakang,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya.
Selama enam dekade perjalanannya, Pertuni telah membuktikan bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar penerima bantuan, melainkan mitra strategis dalam menjaga arah pembangunan. Sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto, Gus Ipul memaparkan prinsip kepemimpinan ideal yang berfokus pada perlindungan kelompok rentan.
“Keadilan sosial bukan berarti semua orang diperlakukan sama, tetapi setiap orang mendapatkan perlakuan sesuai kebutuhannya,” kata Gus Ipul, menggarisbawahi pentingnya pemenuhan hak yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, sesuai dengan Asta Cita ke-4 yang memprioritaskan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penyandang disabilitas.
Data sebagai Fondasi Keadilan
Merujuk pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, negara memiliki kewajiban memberikan afirmasi berupa penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak nyata. Gus Ipul menyoroti data sebagai langkah awal yang krusial dalam mewujudkan keadilan ini.
Berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), tercatat 15.262.448 penyandang disabilitas di Indonesia, dengan 4.291.068 di antaranya merupakan penyandang disabilitas sensorik netra. Namun, Gus Ipul mengingatkan bahwa angka tersebut belum mencerminkan gambaran yang utuh.
“Data bukan hanya angka, data adalah nama, alamat, dan kehidupan,” terang Gus Ipul. Ia menambahkan, “Selama masih ada satu orang yang belum masuk data, maka tugas kita belum selesai.”
Oleh karena itu, Gus Ipul mengajak seluruh jajaran Pertuni untuk berkolaborasi menyempurnakan DTSEN melalui proses verifikasi, koreksi, dan pemutakhiran. Tujuannya adalah memastikan tidak ada penyandang disabilitas yang terabaikan karena tidak terdata.
Intervensi Kemensos untuk Pemberdayaan
Pembagian desil berdasarkan DTSEN merupakan strategi pemerintah untuk memastikan bantuan sosial tepat sasaran. Kementerian Sosial (Kemensos) memiliki peran vital dalam memberikan intervensi yang mencakup berbagai aspek.
“Ada teman-teman penyandang disabilitas yang memerlukan perlindungan dan jaminan sosial dari negara. Pada dasarnya, itu adalah upaya negara untuk memberikan perlindungan,” tegas Gus Ipul.
Intervensi Kemensos meliputi penopang dalam aspek perlindungan sosial, rehabilitasi sosial dan ATENSI, dukungan akses kesehatan, bantuan permakanan, penyediaan alat bantu adaptif bagi tuna netra, pemberdayaan vokasi untuk kemandirian, serta penguatan literasi melalui bacaan Braille.
“Kita butuh kerja bersama agar bantuan sosial menjadi jembatan menuju pemberdayaan, agar pemberdayaan menjadi pijakan menuju kemandirian, dan agar kemandirian menjadi jalan menuju martabat,” tutur Gus Ipul, menekankan sinergi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Tantangan dan Pekerjaan Rumah ke Depan
Gus Ipul mengakui bahwa tantangan ke depan sangat beragam. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, termasuk penyempurnaan data program agar tetap sasaran, perluasan aksesibilitas layanan publik, penguatan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang inklusif, penghapusan stigma dan diskriminasi, serta peningkatan kesiapsiagaan bencana bagi penyandang disabilitas.
Acara HUT ke-60 Pertuni ini turut dihadiri oleh berbagai perwakilan instansi dan organisasi, antara lain Direktorat Bina Penempatan Tenaga Kerja Khusus, Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, Pendiri Pertuni Dra Aryani Sukamwo, Perwakilan BPJS Ketenagakerjaan, Presiden Rumah Aspirasi, Ketua Umum DPP Pertuni, Ketum Perhimpunan Jiwa Sehat, Pembina ITMI, Direktur RSPD, Kepala Sentra Abiyoso, serta para tamu undangan lainnya.






