Berita

Satgas Galapana DPR Ungkap 4 Masalah Krusial Pascabencana Aceh, Fokus Huntara hingga Normalisasi Sungai

Advertisement

BANDA ACEH, SABTU (10/1/2026) – Satuan Tugas Penanggulangan Pascabencana (Galapana) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melaporkan empat permasalahan pokok yang dihadapi dalam penanganan pascabencana di Aceh. Temuan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Satgas Galapana DPR bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Pemerintah di Banda Aceh, Sabtu (10/1/2026).

Empat Permasalahan Pokok Pascabencana

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, T.A. Khalid, yang bertindak sebagai penanggung jawab (PIC) dari DPR, menjelaskan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan dengan berbagai pihak. Ia bersama PIC dari pemerintah menindaklanjuti hasil rapat sebelumnya pada 30 Desember 2025. Khalid mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan satgas di lapangan serta seluruh bupati di Aceh yang terdampak bencana pada 1, 2, dan 4 Januari 2026.

“Tanggal 5 rapat kami laporkan semua, teman-teman dari PIC melaporkan dari lapangan kemudian ada permasalahan yang bisa kami selesaikan langsung di sini,” ujar Khalid. Ia menambahkan, “Komunikasi kami antarkementerian sangat luar biasa.”

Fokus pada Hunian Sementara dan Normalisasi Sungai

Salah satu isu krusial yang diangkat adalah mengenai hunian tetap sementara atau Huntara. Satgas Galapana DPR menerima masukan agar penyediaan Huntara lebih memperhatikan kebutuhan perempuan dan anak, sebuah masukan yang diklaim berhasil diselesaikan. “Kami laporkan alhamdulillah banyak hal yang bisa kami selesaikan,” kata Khalid.

Advertisement

Adapun empat permasalahan pokok yang dilaporkan dalam rapat tersebut meliputi:

  • Normalisasi sungai yang terdampak bencana.
  • Percepatan penyediaan Huntara.
  • Akses infrastruktur menuju daerah terisolir.
  • Pembersihan rumah masyarakat yang mengalami kerusakan ringan.

Khalid menyoroti pentingnya normalisasi sungai. “Sungai-sungai yang berefek pada banjir susulan karena masih ada kayu dan sebagainya, hujan 1 jam banjir,” jelasnya, mengindikasikan kerentanan wilayah tersebut terhadap banjir susulan akibat sedimentasi dan material sisa bencana yang menyumbat aliran sungai.

Advertisement