London – Mantan manajer Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou, melontarkan kritik pedas terhadap klub yang pernah dibesutnya. Ia menilai Spurs kerap berlagak seperti klub besar, namun kenyataannya tidak demikian, terutama dalam hal kemampuan finansial untuk memperkuat tim.
Thomas Frank Dipecat Menyusul Hasil Buruk
Kritik Postecoglou ini muncul di tengah pemecatan manajer Thomas Frank pada Rabu (11/2/2026). Frank harus angkat kaki setelah serangkaian hasil mengecewakan, khususnya di Premier League. Tottenham tercatat tanpa kemenangan dalam delapan pertandingan terakhirnya di liga, yang membuat mereka terperosok ke peringkat 16 klasemen, hanya lima poin di atas zona degradasi.
Frank sendiri baru ditunjuk pada musim panas tahun lalu, menggantikan Ange Postecoglou. Namun, nasibnya serupa dengan 11 manajer lainnya (termasuk pelatih interim) yang tak bertahan lama di kursi kepelatihan Tottenham dalam 18 tahun terakhir.
Keterbatasan Belanja dan Struktur Gaji
Postecoglou mengungkapkan bahwa salah satu masalah utama Tottenham adalah keterbatasan kemampuan klub dalam memperkuat skuad. Ia mengenang pengalamannya pada tahun 2024, ketika ia berupaya mendatangkan pemain seperti Pedro Neto, Bryan Mbeumo, Antoine Semenyo, dan Marc Guehi. Namun, tak satupun dari target tersebut berhasil didapatkan.
Pria asal Australia itu menyimpulkan bahwa Tottenham berada di level yang berbeda dibandingkan klub-klub top Inggris. “Kalau Anda melihat ke belanja mereka dan secara khusus struktur gajinya, mereka itu bukan klub besar,” ujarnya dalam siniar The Overlap.
Ia menambahkan, “Saya melihat itu karena, ketika kami mencoba merekrut pemain, kami tidak berada di bursa untuk pemain-pemain (yang saya inginkan) itu.”
Prestasi dan Ambisi yang Berbeda
Postecoglou sendiri dipecat dari Tottenham setelah finis di peringkat 17 klasemen Premier League musim 2024/2025. Meskipun hasil tersebut dianggap buruk, ia berhasil membawa klub meraih gelar Liga Europa, yang merupakan trofi pertama mereka dalam 17 tahun.
Pada periode tersebut, Postecoglou memang menunjukkan kecenderungan untuk memprioritaskan Liga Europa, bahkan jika harus mengorbankan performa di Liga Inggris. Ia merasa klub tidak sepenuhnya memahami esensi dari ambisi untuk meraih kemenangan.
“Menurut saya, mereka tidak menyadarinya. Bahwa untuk benar-benar menang, Anda mesti mengambil risiko,” sahutnya.
“Saya merasa Tottenham sebagai sebuah klub bilang ‘Kami adalah salah satu klub besar di sini’, dan realitanya adalah, saya rasa mereka tidak begitu.”
Sumber: 90Menit.ID






