Berita

BNPB Ungkap Penyebab Longsor Susulan di Agam, Status Tanggap Darurat Diperpanjang

Advertisement

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan status tanggap darurat di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kembali diperpanjang. Keputusan ini diambil menyusul masih terjadinya bencana longsor susulan hingga beberapa hari terakhir.

Longsor Susulan dan Banjir Lumpur Masih Terjadi

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa Kabupaten Agam menjadi satu-satunya wilayah di Sumatera Barat yang masih berstatus tanggap darurat. “Kabupaten Agam ini yang beberapa kali hingga tiga hari yang lalu itu masih ada bencana longsor susulan,” ujar Abdul Muhari, dikutip dari kanal YouTube BNPB Indonesia, Senin (5/1/2025).

Selain longsor susulan, fenomena banjir lumpur yang disertai batu-batu besar, atau yang dikenal sebagai Galodo, juga masih terus terjadi. BNPB mengidentifikasi penyebabnya adalah adanya rekahan di bagian hulu. “Jadi banjir lumpur diikuti oleh batu-batu besar yang di daerah disebut Galodo itu masih terjadi. Karena memang di bagian hulunya terdeteksi ada rekahan-rekahan yang kalau ada hujan dengan intensitas sedang tapi durasi lama ini masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan,” jelasnya.

Upaya Mitigasi dan Modifikasi Cuaca

Saat ini, BNPB terus memantau situasi dan melakukan langkah-langkah mitigasi untuk meminimalkan potensi bencana susulan di Kabupaten Agam. Abdul Muhari menambahkan bahwa wilayah Sumatera Barat lainnya sudah tidak ada lagi yang berstatus tanggap darurat, melainkan sudah memasuki masa transisi darurat.

Modifikasi cuaca juga masih terus dilakukan untuk mengurangi potensi bencana susulan. Hal ini penting mengingat kapasitas daya tampung saluran air utama, termasuk sungai, masih terbatas akibat tingginya sedimentasi. “Karena saat ini kondisi atau kapasitas daya tampung dari saluran-saluran air utama ini sungai dan lain-lain ini masih sangat terbatas karena tingginya sedimentasi dan lain-lain sehingga hujan intensitas sedang pun kalau dia berlangsung lebih dari 2 jam itu bisa membuat luapan air,” terangnya.

Advertisement

Fenomena serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah lain, termasuk Aceh dan beberapa daerah di Sumatera Barat seperti Agam, Padang, dan Batu Busuak, di mana laporan visual menunjukkan aliran air yang deras akibat kapasitas saluran yang belum optimal.

Normalisasi Saluran dan Pengerukan Sungai

Pemerintah berupaya mempercepat normalisasi saluran air di darat, khususnya pada jalur sungai baru yang kerap menyebabkan luapan saat hujan. Untuk mengatasi banjir, langkah pengerukan sungai akan dilakukan mulai dari muara hingga ke hulu.

“Jadi tidak hanya di badan sungai yang ada di darat tapi juga nanti mulai dari muara naik ke atas dengan menggunakan kapal dredging yang lebih besar sehingga proses pendalaman saluran ini bisa lebih cepat,” kata Abdul Muhari.

Advertisement