Fenomena alam langit berwarna merah yang sempat viral di Pandeglang, Banten, beberapa hari lalu, telah menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat setempat. Peristiwa optik atmosfer yang dikenal sebagai hamburan Rayleigh ini terjadi pada Kamis (18/12/2025) petang. Sejumlah warga berhasil mengabadikan momen langka tersebut dan membagikannya di media sosial, memicu rasa penasaran dan kebingungan.
Penjelasan Ilmiah Hamburan Rayleigh
Dikutip dari jurnal Astronomy & Astrophysics berjudul Rayleigh scattering in the atmospheres of hot stars yang ditulis oleh J Fišák dkk (2016), hamburan Rayleigh merupakan jenis proses hamburan khusus. Menurut Loudon (1983), proses hamburan oleh elektron terikat dapat dibagi menjadi tiga kasus: fluoresensi, hamburan Raman, dan hamburan Rayleigh. Dalam hamburan Rayleigh, sebuah ion tereksitasi oleh foton dan bertransisi ke keadaan virtual yang sangat tidak stabil, kemudian elektron segera kembali ke keadaan semula.
Hamburan Rayleigh, yang juga dikaitkan dengan nama John William Strutt atau Lord Rayleigh, adalah efek yang bertanggung jawab atas warna biru langit di siang hari dan warna merah saat matahari terbenam. Pusat hamburan ini adalah molekul oksigen dan nitrogen karena keduanya merupakan komponen terbanyak di atmosfer Bumi. Fenomena ini juga menjadi sumber opasitas penting di atmosfer planet lain, bahkan terdeteksi di atmosfer eksoplanet dan diduga menjadi penyebab warna biru pada eksoplanet tersebut. Hamburan Rayleigh juga berperan penting pada bintang karena adanya populasi atom hidrogen netral yang besar.
BMKG: Kejadian Alami dan Biasa
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II Banten, Hartanto, menegaskan bahwa peristiwa langit merah di Pandeglang adalah kejadian alami dan biasa. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena pembiasan cahaya matahari saat posisinya rendah, menjelang terbenam. Cahaya matahari harus menempuh jarak lebih jauh melalui atmosfer Bumi untuk mencapai mata pengamat.
“Sehingga hanya warna dengan gelombang panjang seperti merah dan jingga yang mampu menembus atmosfer dan tertangkap oleh mata kita,” ujar Hartanto, Minggu (21/12/2025).
Lebih lanjut, Hartanto menambahkan bahwa munculnya warna merah yang pekat dipengaruhi oleh tingginya konsentrasi uap air atau adanya partikel aerosol (debu/polutan) yang melayang di udara. Ia menyebutkan bahwa wilayah Pandeglang saat ini sedang diguyur hujan, yang turut memperkuat efek pantulan warna merah pada awan di sekitarnya.
“Warna merah yang tampak sangat pekat biasanya dipengaruhi oleh tingginya konsentrasi uap air, atau adanya partikel aerosol di udara,” jelasnya.
Imbauan Tetap Tenang dan Pantau Informasi Resmi
Menyikapi kehebohan yang terjadi, Hartanto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh spekulasi liar. Ia meminta masyarakat untuk terus memantau informasi perkembangan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG.
“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan kami menghimbau masyarakat untuk tetap memantau informasi cuaca resmi,” tegasnya.
Bukan Pertanda Bencana Alam
BMKG secara tegas menyatakan bahwa fenomena langit berwarna merah di Pandeglang tidak memiliki kaitan dengan tanda-tanda potensi bencana alam.
“Kejadian tersebut tidak mencirikan akan terjadinya bencana alam,” kata Hartanto, Jumat (19/12/2025).






