Davos, Swiss – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menyerukan upaya kolektif untuk memulihkan ekosistem laut global yang menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim, pencemaran, dan penangkapan ikan ilegal.
Ancaman Masif Terhadap Lautan
Dalam forum Velocity of the Blue Economy yang merupakan bagian dari World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Trenggono menekankan bahwa lautan dunia kini tengah menghadapi ancaman yang kian masif. Pemanasan laut, peningkatan keasaman, penurunan stok ikan, dan pencemaran menjadi isu krusial yang membutuhkan perhatian segera.
“Lautan kita menghadapi ancaman serius, pemanasan laut, meningkatnya keasaman, menurunnya stok ikan, dan pencemaran laut. Lautan kita memanggil kita semua untuk bertindak bersama menyelamatkan, dan mengelolanya dengan tanggung jawab,” ungkap Trenggono dalam keterangan tertulis, Kamis (22/1/2026).
Indonesia Pimpin Ekonomi Biru
Trenggono menegaskan bahwa Indonesia, dengan program-program Ekonomi Biru yang dimilikinya, siap memimpin upaya bersama untuk melindungi ekosistem laut dari kerusakan yang semakin meluas. Laut, menurutnya, telah lama menjadi bagian integral dari sejarah, identitas, dan masa depan bangsa Indonesia.
Ia menekankan pentingnya tindakan cepat dan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, pelaku bisnis, hingga masyarakat. KKP sendiri telah mengambil langkah-langkah konkret, termasuk:
- Memperluas kawasan konservasi laut dari 30 juta hektare menjadi target 97,5 juta hektare pada 2045.
- Mengatur sistem penangkapan ikan melalui kuota untuk meminimalkan penangkapan berlebih dan illegal fishing.
- Mengembangkan budidaya perikanan secara inovatif, berkelanjutan, dan inklusif untuk kesejahteraan masyarakat serta menjaga ketahanan pangan.
- Melindungi kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dari aktivitas ekonomi yang berpotensi merusak ekosistem.
Karbon Biru dan Peran Indonesia
Lebih lanjut, Trenggono menyoroti peran vital Indonesia dalam pengelolaan karbon biru. Indonesia menyimpan sekitar 17 persen cadangan karbon biru global, menjadikannya penyerap karbon yang sangat penting untuk mengatur iklim global dan menjaga kesehatan laut.
“Indonesia memiliki salah satu cadangan karbon biru terbesar di dunia, menyimpan sekitar 17 persen karbon biru global. Ekosistem pesisir ini adalah penyerap karbon yang sangat penting, dan berperan mengatur iklim global serta menjaga kesehatan laut,” paparnya.
Pandangan Uni Eropa dan Aksi Nyata
Dalam kesempatan yang sama, European Commissioner for Sustainable Transport and Tourism, Apostolos Tzitzikostas, menyampaikan pandangannya mengenai implementasi ekonomi biru. Ia melihat ekonomi biru tidak hanya sebagai isu ekonomi, tetapi juga terkait daya saing dan keamanan.
Untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut, Uni Eropa mendorong penggunaan bahan bakar alternatif di sektor maritim dan pelayaran guna mengurangi sebaran karbon di laut. “Apa yang tengah kami siapkan di Uni Eropa adalah Strategi Uni Eropa untuk Pelabuhan dan Sektor Maritim, yang akan menjawab seluruh tantangan saat ini, termasuk juga pengembangan ekonomi biru,” paparnya.
Indonesia Tuan Rumah Ocean Impact Summit 2026
Menteri Trenggono juga mengumumkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit 2026 pada Juni 2026 di Bali. Pertemuan global ini akan mengumpulkan para pemimpin dunia, pelaku bisnis, dan ahli untuk menghasilkan aksi nyata bagi tata kelola laut yang berkelanjutan.
Pertemuan Velocity of the Blue Economy dihadiri oleh perwakilan negara dan organisasi global. Isu kelautan menjadi salah satu fokus utama dalam WEF 2026, yang dibuktikan dengan peluncuran inisiatif Blue Davos dan penetapan 2026 sebagai Year of Water.






