Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Jawa Tengah menunjuk Paku Buwono (PB) XIV Purbaya sebagai pembina. Pihak Purbaya menegaskan penunjukan ini tidak terkait dengan Keraton Solo secara kelembagaan.
Alasan GRIB Jaya Jateng Tunjuk PB XIV Purbaya
Ketua GRIB Jaya Jateng, Isroi Rois, menjelaskan penunjukan PB XIV Purbaya sebagai pembina bertujuan untuk mengubah stigma GRIB yang selama ini kerap dipandang negatif. “GRIB Jaya Jateng itu mengedepankan sebuah keharmonisan. Di mana pun ada kita, yang selama ini disangka sebagai preman, kita akan memastikan bahwa kita itu bukan preman, tapi kita orang-orang yang punya latar belakang akademisi,” kata Isroi.
Ia menambahkan, GRIB memiliki keinginan untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat dan memastikan jabatan budaya di Keraton Solo aman. “Juga kami punya keinginan menyatukan siapapun, dan memastikan jabatan budaya yang ada di Keraton Solo itu dipastikan aman. Adapun yang di dalamnya ada, itulah salah satu yang harus kita selesaikan dengan cara musyawarah sepakat,” jelasnya.
Isroi mengungkapkan, GRIB telah lama melibatkan tokoh-tokoh penting sebagai pembina. Penunjukan PB XIV Purbaya diharapkan dapat memberikan pembinaan agar ormas tersebut berjalan di jalan yang benar. “Kita memang memasukkan tokoh-tokoh yang punya keistimewaan, supaya dia bisa membina kami untuk bisa berjalan di jalan yang benar. Kami punya motivasi bahwa Solo itu suatu wilayah yang harus kita jaga,” tuturnya.
Penjelasan Pihak PB XIV Purbaya
Juru bicara Paku Buwono XIV Purbaya, KPA Singonagoro, memberikan klarifikasi mengenai penunjukan tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran PB XIV Purbaya tidak terafiliasi dengan kelembagaan Keraton Solo. “Perlu kami tegaskan bahwa kehadiran dan peran tersebut tidak dimaknai sebagai afiliasi kelembagaan, serta tidak membawa institusi Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ke dalam struktur maupun kepentingan organisasi tertentu, kehadiran itu hari Sabtu (20/12) kemarin,” katanya melalui keterangan tertulis.
Singonagoro menyatakan, Keraton Solo tetap berdiri sebagai lembaga adat dan budaya yang menjaga jarak yang sama dengan seluruh golongan. “Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap berdiri sebagai lembaga adat dan budaya yang menjaga jarak yang sama dengan seluruh golongan. Sinuhun (Paku Buwono XIV Purbaya) merangkul semua elemen dan menerima kehormatan ini dengan baik,” terangnya.
Ia menceritakan, PB XIV Purbaya awalnya menghadiri sebuah pesantren di Demak, Jawa Tengah, yang didirikan oleh GRIB. Di lokasi tersebut juga terdapat kegiatan sosial kemasyarakatan Dapur MBG. “Kunjungan tersebut merupakan bagian dari silaturahmi serta perhatian SISKS Pakoe Boewono XIV terhadap kegiatan pendidikan, keagamaan, dan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka, sederhana, dan penuh keakraban,” ujarnya.
Dari pertemuan tersebut, PB XIV Purbaya diminta menjadi pembina GRIB Jawa Tengah sebagai bentuk penghormatan personal. “Dalam kesempatan tersebut, SISKS Pakoe Boewono XIV dimintai kesediaannya untuk berkenan menjadi salah satu pembina. Permintaan tersebut dipahami sebagai bentuk penghormatan secara personal kepada beliau sebagai tokoh adat dan budaya, dengan penekanan pada pemberian nasihat moral, kebangsaan, serta nilai-nilai kearifan lokal,” jelasnya.






