Surabaya – Wakil Ketua DPRD Surabaya, Laila Mufidah, mendesak Pemerintah Kota Surabaya untuk memastikan pengelolaan sampah berjalan optimal demi kenyamanan warga. Ia menekankan pentingnya mencegah penumpukan sampah di berbagai titik kota.
Sampah Ancam Kenyamanan dan Kesehatan Warga
Menurut Laila, penumpukan sampah tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap dan potensi penyakit, tetapi juga merusak estetika kota serta mengganggu kenyamanan warga. “Jangan sampai ada penumpukan sampah,” tegas Laila dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/1/2026).
Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah yang tidak serius dapat menimbulkan berbagai persoalan di perkotaan. Penanganan yang tidak profesional berpotensi menciptakan masalah kota dan mengusik ketenteraman warga. Laila menegaskan bahwa Surabaya harus terbebas dari persoalan sampah, apapun kondisinya.
Meskipun demikian, Laila menyatakan apresiasinya terhadap langkah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya dalam menangani sampah selama ini. Saat ini, Surabaya menghasilkan sekitar 1.600 ton sampah per hari, yang terdiri dari sampah organik, anorganik, serta sampah plastik dari rumah tangga, tempat usaha, hingga industri.
Optimalkan Pengelolaan Sampah hingga Tingkat Kampung
Laila mendesak DLH untuk terus mengoptimalkan pengelolaan sampah, mengingat prioritas utama warga adalah lingkungan yang bersih, bebas tumpukan sampah, dan tidak berbau. Ia juga meminta agar penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun sudut-sudut kota dapat dihindari.
Selain itu, Laila mendorong pengembang perumahan untuk memiliki kesadaran dalam mengelola sampah di wilayah mereka. Ia juga meminta setiap kampung membuat kesepakatan pengelolaan sampah lokal sebelum dibuang ke TPS. “Kita semua tidak ingin fenomena penumpukan sampah di Jakarta terjadi di Surabaya. Kami yakin Pemkot mampu mengelola sampah dengan optimal,” ujar Laila.
Peran aktif warga di tingkat kampung juga ditekankan oleh Laila, mengingat petugas DLH tidak selalu menjangkau setiap perkampungan. Ia juga menyoroti perlunya perundingan terkait pembiayaan jika ada petugas pengangkut sampah menggunakan gerobak di kampung. Laila meminta Pemkot Surabaya mendukung penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah di tingkat kampung. “Pemkot Surabaya harus konsisten memberikan bantuan seperti tong sampah, gerobak, hingga sarana penunjang lainnya demi kebersihan kampung,” papar Laila.
Dorong Armada Modern dan Apresiasi TPS RDF
Laila juga mendesak DLH untuk tertib dan rutin mengangkut sampah dari TPS, dengan batas waktu sebelum pukul 07.00 WIB agar tidak mengganggu aktivitas warga di pagi hari. Ia menilai Surabaya sebagai kota metropolitan seharusnya menggunakan armada pengangkut sampah modern, bukan lagi truk sampah lendir yang hanya ditutup terpal.
Meskipun demikian, Laila mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya dalam mengelola sampah menjadi energi alternatif melalui TPS RDF (Refuse Derived Fuel) di TPS 3R Tambak Osowilangun. Hasil pengeringan sampah ini dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif industri, dan Pemkot Surabaya tengah berkoordinasi dengan industri Semen Gresik terkait pemanfaatannya. DPRD bersama Pemkot Surabaya telah menganggarkan Rp 30 miliar untuk operasional TPS RDF.
“Kami mendukung upaya Pemkot Surabaya untuk mengatasi problematika kota soal sampah. Apalagi saat ini tengah dijalankan program kampung zero waste. Kampung nol sampah di Surabaya,” ucap Laila.
Saat ini, volume sampah di Surabaya berkisar antara 1.600 hingga 1.800 ton per hari. Laila mendorong agar pengelolaan sampah organik lebih dimaksimalkan untuk mereduksi volume sampah secara signifikan. Ia mengakui program kampung zero waste dan bank sampah belum berjalan optimal karena pengelolaannya belum tertata.
Respons Dinas Lingkungan Hidup
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, Dedik Irianto, menyampaikan bahwa sampah organik di Surabaya telah dipilah dan diolah. Surabaya memiliki 27 rumah kompos dan 12 TPS 3R. “Selain rumah kompos, Surabaya juga punya 12 TPS 3R. Bahkan kami saat ini juga tengah mengembangkan TPS RDF (Refuse Derived Fuel) yang bisa jadi bahan bakar alternatif,” pungkas Dedik.






