Aurelie Moeremans meminta publik untuk tidak berspekulasi dan melakukan perundungan terhadap sosok-sosok yang muncul dalam memoar terbarunya, Broken Strings. Buku yang menceritakan pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming di usia 15 tahun ini telah menjadi sorotan publik.
Permintaan Aurelie Moeremans
Seiring dengan viralnya buku tersebut, banyak netizen yang mulai menebak-nebak identitas karakter-karakter di dalamnya. Nama Roby Tremonti menjadi salah satu yang mencuat setelah ia merasa tersindir oleh karakter Bobby. Spekulasi juga ramai beredar mengenai karakter lain seperti Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, dan Tom.
Menanggapi hal ini, Aurelie Moeremans menyampaikan pesan tegas melalui akun Threads miliknya pada Minggu (18/1/2026). Ia meminta agar pembaca tidak berasumsi dan melakukan perundungan, terutama jika identitas karakter masih sebatas tebakan.
“Please…. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan,” tulis Aurelie.
Ia menegaskan bahwa banyak asumsi yang beredar belum tentu benar dan justru membuatnya merasa tidak nyaman. “Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku nggak enak bacanya,” sambungnya.
Fokus pada Pengalaman dan Penyembuhan
Bintang film Story of Kale: When Someone’s in Love itu berharap pembaca dapat kembali pada tujuan utama penulisan bukunya. Menurutnya, buku ini ditulis untuk berbagi pengalaman dan proses penyembuhan, bukan untuk mencari sosok nyata di balik karakter.
“Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” ungkapnya.
Aurelie juga menanggapi kemungkinan adanya pihak yang mengaku sebagai karakter dalam bukunya. Ia menyatakan bahwa hal tersebut adalah urusan pribadi masing-masing, namun kembali menekankan agar publik tidak menyerang berdasarkan spekulasi.
“Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan,” tegas Aurelie.
Perempuan yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya itu menutup pesannya dengan harapan agar ruang diskusi seputar bukunya tetap aman dan penuh empati. Ia menulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru untuk di-bully, melainkan untuk membuka mata, memberi awareness, dan membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama.
“Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully. Aku menulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” pungkasnya.






