Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas pencapaian swasembada beras Indonesia pada tahun 2025. Ia menilai keberhasilan ini sebagai tonggak penting dalam sejarah ketahanan pangan nasional dan bukti keseriusan politik yang menghasilkan buah nyata dalam waktu singkat.
Bamsoet menyatakan bahwa swasembada beras di era pemerintahan Prabowo Subianto ini merupakan yang ketiga kalinya dalam sejarah Indonesia. Swasembada pertama terjadi pada era Presiden Soeharto pada 1984, dengan produksi beras sekitar 27 juta ton dan konsumsi nasional 25 juta ton, yang kemudian mendapatkan penghargaan dari FAO pada 1985. Swasembada kedua diraih pada 2008 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 24 tahun setelah swasembada pertama.
Kini, 17 tahun berselang, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pada Selasa (7/1) di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, bahwa produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton. Angka ini melampaui kebutuhan nasional yang berkisar 30-31 juta ton per tahun, menghasilkan surplus beras yang signifikan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.
“Swasembada beras tahun 2025 patut dimaknai sebagai prestasi luar biasa, karena hal tersebut bisa diraih di tengah tantangan yang tidak mudah. Alih fungsi lahan pertanian yang masih masif, tekanan perubahan iklim yang menggeser pola musim tanam, hingga penguatan harga pangan global menjadi tantangan serius yang harus dihadapi sektor pertanian nasional,” kata Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).
Bamsoet menambahkan, terwujudnya swasembada beras ini menunjukkan Presiden Prabowo telah memenuhi janjinya terkait ketersediaan dan keamanan pangan nasional. Target swasembada pangan yang dicanangkan dalam empat tahun masa kepresidenan, berhasil dicapai hanya dalam satu tahun pemerintahan melalui kebijakan konsolidasi, penguatan petani, peningkatan produksi, serta distribusi sarana pertanian yang lebih terarah.
“Ini menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan yang fokus dan eksekusi yang disiplin, agenda strategi nasional dapat dipercepat,” ujar Bamsoet saat di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Namun, Bamsoet mengingatkan bahwa keberhasilan produksi harus segera diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam hal stabilitas dan keterjangkauan harga beras. Ia menekankan bahwa swasembada beras tidak boleh hanya menjadi angka statistik.
“Harapan masyarakat sangat sederhana. Ketika beras berlimpah, harga di pasar harus masuk akal, tidak membebani rumah tangga, terutama masyarakat ekonomi rendah,” jelas Bamsoet.
Untuk itu, Bamsoet mendorong kementerian dan lembaga terkait untuk merumuskan kebijakan lanjutan guna memastikan surplus produksi beras berbanding lurus dengan keterjangkauan harga. Penguatan cadangan beras pemerintah, optimalisasi peran Bulog dalam stabilisasi harga, serta pengawasan distribusi dari hulu ke hilir menjadi kunci agar manfaat swasembada benar-benar dirasakan rakyat.
Selain itu, pengamanan pasar beras secara serius juga penting dilakukan. Bamsoet meminta Satuan Tugas Pangan bersama aparat penegak hukum untuk lebih aktif menindak praktik merugikan konsumen seperti penimbangan biologi, pengoplosan beras, hingga permainan harga di tingkat distributor dan pengecer.
“Manipulasi timbangan dan pengoplosan beras adalah kejahatan terhadap masyarakat. Setelah swasembada tercapai, jangan sampai konsumen kembali dirugikan oleh ulah oknum pedagang yang mencari keuntungan dengan cara curang,” tutur Bamsoet.
Bamsoet menutup pernyataannya dengan harapan bahwa keberhasilan swasembada beras ini menjadi momentum untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap negara dalam mengelola sektor pangan. Negara diharapkan tidak hanya memastikan kecukupan produksi, tetapi juga menjamin keadilan pasar dan perlindungan konsumen.
“Jika produksi kuat, terdistribusi secara tertib, dan harga terkendali, maka swasembada beras akan benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan rakyat,” tutupnya.






