Selebriti

Diding Boneng Vakum Syuting Akibat Asma, Akui Tak Boleh Lelah dan Stres

Advertisement

Aktor senior Diding Boneng saat ini tengah fokus memulihkan kesehatannya akibat penyakit asma yang dideritanya. Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, kondisi fisiknya tidak lagi sama seperti dahulu. Diding Boneng menduga gangguan pernapasannya tersebut berkaitan dengan aktivitas syuting yang dijalaninya beberapa tahun lalu.

Dampak Syuting Film Horor

Menurut Diding, gangguan asma ini muncul setelah ia pulang dari syuting sebuah film horor. “Waktu itu syutingnya di hutan, 80 persen adegan malam hari dan selalu pakai efek asap buatan,” ungkap Diding Boneng saat ditemui di kawasan Matraman, Jakarta Pusat, Jumat (2/1/2026).

Proses produksi yang memakan waktu lama di lingkungan yang ekstrem tersebut ternyata memberikan dampak serius pada fisiknya. Diding, yang memiliki nama asli Zainal Abidin, menjelaskan bahwa paparan asap buatan itu berlangsung hampir tiga bulan. “Saya syuting dua judul, total sekitar 80 hari kena asap terus. Mungkin itu penyebabnya,” terangnya.

Prioritas Kesehatan dan Kontrol Rutin

Kini, keseharian aktor berusia 75 tahun itu diisi dengan jadwal kontrol kesehatan yang rutin. Meskipun rumahnya sedang dalam proses pembangunan kembali setelah roboh, ia memprioritaskan kesehatannya di atas segalanya.

Advertisement

“Kemarin juga dokter datang ke sini membawakan obat. Yang penting kata dokter saya tidak boleh capek, tidak boleh stres, dan harus senang terus,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa dokter memberikannya obat dan menekankan pentingnya menjaga kondisi agar tidak lelah dan terhindar dari stres.

Selektif Terima Tawaran Peran

Meskipun semangat berkaryanya masih tinggi, Diding Boneng mengakui bahwa kondisi fisiknya saat ini tidak seperti dulu. Ia menjadi sangat selektif dalam menerima tawaran peran. Hal ini dilakukannya karena ia khawatir asmanya akan kambuh di lokasi syuting dan merepotkan seluruh kru film yang bertugas.

“Kalau mikir berat, napas saya langsung terasa sesak,” aku Diding Boneng, menggambarkan betapa sensitifnya kondisi pernapasannya terhadap beban pikiran atau fisik.

Advertisement