Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menceritakan kegalauannya dalam memilih nama untuk jembatan penyeberangan orang (JPO) yang akan menghubungkan Jakarta International Stadium (JIS) dengan kawasan Ancol. Groundbreaking jembatan tersebut telah dilakukan pada Minggu (25/1/2026).
Pramono mengungkapkan rasa gembiranya atas inisiatif penyambungan kedua area tersebut. “Tidak ada yang lebih gembira daripada saya. Karena memang dari awal ketika saya mengetahui ini, saya memang langsung ingin menyambungkan. Dan ternyata problem yang paling utama untuk membuat JPO atau Jembatan ini adalah ego sektoral yang berlebihan,” ujar Pramono dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan JPO sebenarnya tidak terlalu sulit jika ego sektoral dapat diatasi. “Padahal kalau dilihat di lapangannya sebenarnya nggak terlalu sulit. Untung saya bicara dengan Ancol, bicara dengan BTN, bicara dengan JakPro. Akhirnya bertemulah. Itu pun masih belum segera bisa dimulai. Termasuk namanya pun mau JPO, Ancol, BTN, JIS. Saya bilang nggak enak banget,” jelasnya.
Pramono sempat mengusulkan nama ‘JPO Bersama BTN’ dan berdiskusi dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengenai pilihan nama tersebut. “Kenapa nggak JPO bersama BTN? Nah tadi ketika saya duduk, saya ngobrol-ngobrol sama Pak Wagub, saya jadi galau. Karena dibilang galau sama Pak Dirut. Galaunya adalah, jangan-jangan JPO sudah dibuatkan bagus, di sini berkembang seperti yang disampaikan Pak Dirut BTN,” ucapnya.
Gubernur Anung menekankan potensi besar kawasan tersebut. “Memang masa depan Jakarta ada di tempat ini, stadionnya JIS by Emirates. Padahal inginnya JIS by BTN. Nah untuk itu saya galau Pak Dirut. Mari kita galau bersama-sama,” tambahnya.
Lebih lanjut, Pramono meyakini JPO JIS-Ancol akan menjadi ikon baru Jakarta. Ia juga menyampaikan harapannya agar terdapat museum Persija di area JIS. “Saya meyakini, saudara-saudara sekalian, saya sungguh meyakini tempat ini memang betul-betul akan menjadi salah satu ikonnya Jakarta. Karena saya sudah meminta kepada JakPro maupun kepada Ancol, nanti harus ada museum Persija,” katanya.
Menanggapi anggapan bahwa dirinya terlalu berpihak pada Persija, Pramono menegaskan komitmennya untuk membangun dan mengembangkan Jakarta secara keseluruhan. “Saya sekarang dianggap sebagai gubernur terlalu Persija banget. Nah gubernurnya Persija, masa nggak mau Persija? Tetapi intinya adalah bahwa, saudara-saudara sekalian, saya ingin betul-betul membangun, mengembangkan Jakarta,” pungkasnya.






