Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyalurkan bantuan senilai Rp 32,9 miliar untuk ribuan guru yang terdampak bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera. Selain bantuan finansial, para guru juga diberikan kelonggaran beban mengajar mengingat situasi pemulihan yang masih berlangsung.
Detail Penyaluran Bantuan
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menjelaskan bahwa bantuan khusus bagi guru terdampak bencana telah disalurkan kepada 16.647 guru. “Penyaluran bantuan khusus bagi guru terdampak bencana 16.647 guru sebesar Rp 32,9 miliar. Aneka tunjangan guru di wilayah bencana tidak mempersyaratkan beban mengajar. Total dana tunjangan sebesar Rp 500,89 miliar dan sudah cair,” ujar Atip dalam rapat satgas di Kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).
Selain itu, Kemendikdasmen juga telah menyalurkan bantuan operasional satuan pendidikan (BOSP) ke 29 ribu satuan pendidikan di kabupaten dan kota terdampak senilai Rp 1,98 triliun. Atip menambahkan bahwa persyaratan penyaluran BOSP telah diberikan fleksibilitas, termasuk dalam penggunaannya sesuai kebutuhan sekolah.
“Rencana minggu ketiga Januari 2026 adalah pemberian bantuan ke Aceh dan Sumut berupa school kit sebanyak 5.510 paket,” sambung Atip. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya akan melanjutkan verifikasi lapangan dan rencana revitalisasi untuk sekolah terdampak di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, serta menyalurkan bantuan peralatan penunjang sekolah.
Lebih lanjut, Kemendikdasmen akan menyalurkan bantuan pemerintah berupa peralatan sekolah senilai Rp 60 miliar dan mengusulkan bantuan darurat melalui APBN Perubahan (ABT). Penyaluran buku teks pembelajaran juga dilakukan dengan rincian 27 ribu eksemplar di Sumatera Barat, 11 ribu eksemplar di Sumatera Utara, dan 55 ribu di Aceh. Pendampingan praktik baik dan model pembelajaran darurat bagi sekolah terdampak bencana di ketiga provinsi tersebut juga menjadi prioritas.
Proses Pembelajaran dan Perbaikan Fisik
Meskipun terdampak bencana, proses pembelajaran di ketiga provinsi tersebut diklaim telah berjalan 100%. “Secara umum kami sampaikan kembali bahwa pembelajaran sudah berjalan 100%, tinggal sarana fisiknya khususnya di yang termasuk kategori rusak berat yang relokasinya memerlukan keakurasi dari lokasi tanahnya,” kata Atip.
Kemendikdasmen mencatat total 4.859 sekolah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Rinciannya, Aceh terdampak 3.773 sekolah, Sumatera Barat 527 sekolah, dan Sumatera Utara 1.259 sekolah.
Namun, perbaikan sarana fisik sekolah masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. “Yang masih tersisa dan harus segera dilaksanakan adalah perbaikan sarana fisiknya. Dengan rinciannya untuk di Aceh yang sudah melakukan pembelajaran di sekolah asal itu 2.966. Artinya di sekolah tersebut hanya dilakukan pembersihan karena kondisinya tergolong rusak ringan. Sementara yang belajar di tenda dan kelas darurat sekitar 82 sekolah. Dan ini yang memerlukan dan akan dilakukan perbaikan secepatnya,” jelas Atip.
Ia menargetkan perbaikan sekolah yang berada di tenda dan kelas darurat dapat diselesaikan pada Februari 2026. Sebanyak 25 sekolah di Provinsi Aceh yang statusnya menumpang di sekolah lain memerlukan relokasi ke lokasi yang aman dari wilayah bencana.






