Influencer Taqy Malik kembali menjadi sorotan publik setelah dituding melakukan mark up harga wakaf mushaf Al-Qur’an di Makkah dan Madinah. Tudingan ini pertama kali diungkap oleh Randy Permana, seorang WNI yang menetap di Arab Saudi, melalui akun media sosialnya @paparich666 pada Rabu (11/2/2026).
Randy mempertanyakan harga program wakaf yang dijalankan oleh Taqy Malik, yang disebut mencapai 80 riyal atau sekitar Rp 330 ribu per mushaf. Menurut Randy, harga tersebut jauh di atas harga pasaran di Makkah dan Madinah yang umumnya berkisar antara 40-50 riyal (sekitar Rp 180 ribu-Rp 200 ribu).
“Selama ane 5 tahun bolak-balik di Saudi, gak pernah nemu harga mushaf/Quran di Mekah Madinah seharga 80 riyal (mau musim haji/Ramadan apapun kek). Antum penyalur wakaf atau jualan wakaf?” tulis Randy.
Dalam wawancara virtual dengan wartawan pada Jumat (13/2/2026), Randy Permana menjelaskan lebih lanjut dugaan tersebut. Ia menyatakan bahwa selisih keuntungan dari program wakaf Taqy Malik terlihat lebih besar dibandingkan harga mushaf itu sendiri. Namun, Randy menegaskan bahwa dirinya tidak secara langsung menyebut tindakan Taqy Malik sebagai penipuan.
Selain itu, Randy juga menyoroti metode pendistribusian mushaf oleh Taqy Malik yang dinilainya berpotensi merugikan komunitas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi.
Taqy Malik Buka Suara dan Ajak Tabayun
Menanggapi tudingan tersebut, Taqy Malik akhirnya buka suara melalui akun Instagram pribadinya. Ia mengajak Randy Permana dan pihak-pihak lain yang melontarkan tuduhan untuk melakukan forum tabayun (klarifikasi) secara terbuka.
“Melalui pernyataan ini, dengan segala kerendahan hati, saya mengundang Saudara Rendy Eka Permana dan semua pihak yang melontarkan tuduhan terkait saya untuk hadir dalam forum tabayyun secara terbuka (LIVE melalui platform Instagram dan di publikasi secara terbuka), bermartabat, dan penuh tanggungjawab, terkait amanah wakaf mushaf dan persoalan lain yang dilontarkan,” tulis Taqy Malik pada Minggu (15/2/2026).
Pemilik akun Instagram dengan 2,3 juta pengikut itu menyatakan siap memfasilitasi pertemuan tersebut demi menjaga kenyamanan dan saling menghormati.
“Ini bukan tentang mencari pembenaran, melainkan menghadiri kebenaran. Ini bukan tentang menyerang, melainkan menjaga amanah. Dan ini bukan tentang opini, melainkan pertanggungjawaban di hadapan manusia, dan terlebih lagi di hadapan Allah SWT,” tegas Taqy.
Ia menambahkan bahwa ruang tabayun dibuka dengan niat baik agar segala sesuatunya menjadi terang dan kepercayaan umat tetap terjaga atas dasar kejelasan, bukan asumsi atau tuduhan liar.
Dalam unggahan Instagram Storynya, Taqy Malik juga mengunggah video yang menampilkan percakapannya dengan seorang penjual mushaf di dekat Masjid Nabawi. Dalam video tersebut, Taqy bertanya mengenai harga mushaf.
“Satu-satu ya gue bahas, ini gue bukan jual muashaf 80 riyal. Gue lagi nanya iseng sama abang yang di depan Nabawi, berapa harga mushaf sekarang. Dia bilang ’80 riyal’ bukan gue yang bilang, kan lucu dipelintir dan di-framing bilang gue jual 80 riyal. Kalian hitung sendiri 80 riyal itu di-convert ke rupiah Rp 360 ribu, sedangkan gue jual Rp 330 ribu,” jelas Taqy Malik dalam video tersebut.






