Badan Gizi Nasional (BGN) melaporkan peningkatan signifikan dalam mutu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Kamis (8/1/2026), sebanyak 4.535 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah berhasil mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Peningkatan Kualitas dan Kepatuhan Standar
Wakil Kepala BGN Bidang Investigasi dan Komunikasi Publik, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan bahwa jumlah dapur bersertifikat ini melonjak drastis dari awalnya hanya 38 dapur. “Ini menunjukkan peningkatan kualitas dan kepatuhan standar,” ujar Nanik dalam konferensi pers satu tahun MBG di SMKN 1 Jakarta, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Nanik menekankan pentingnya sertifikasi ini untuk menjamin keamanan pangan, terutama mengingat lonjakan penerima MBG yang kini mencapai 55,1 juta orang per hari. “Dengan penerima sebanyak itu, standar tidak boleh longgar. Sertifikasi ini bagian dari upaya menuju zero accident,” tegasnya.
Perluasan Program Dibarengi Pengetatan Standar
BGN menargetkan jumlah penerima MBG akan bertambah menjadi 82,9 juta orang pada tahun 2026. Jangkauan program ini akan diperluas mencakup guru, tenaga kependidikan, santri pondok pesantren, hingga anak-anak di rumah singgah. Nanik menegaskan bahwa perluasan program ini akan dibarengi dengan pengetatan standar.
“Pak Presiden menekankan jangan ngoyo. Target besar, tapi kualitas harus dijaga. Dapur yang tidak memenuhi standar bisa diberi sanksi hingga ditutup,” ungkap Nanik. Untuk memperkuat pengawasan dan memastikan mutu MBG, BGN tengah menyiapkan petunjuk teknis baru.
Proses Sertifikasi yang Ketat Demi Keselamatan
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menjelaskan bahwa sertifikat SLHS tidak diberikan secara otomatis. Setiap dapur wajib menjalani pemeriksaan menyeluruh, termasuk uji laboratorium, yang bisa memakan waktu lebih dari satu minggu.
“Kalau belum memenuhi syarat, dapur harus memperbaiki dulu. Tidak bisa dipaksakan,” kata Benjamin. Ia menambahkan bahwa dari lebih dari 7.000 dapur yang mendaftar, tidak semuanya langsung lolos. Pemerintah sengaja memperketat sertifikasi demi keselamatan penerima manfaat.
“Ini bukan menghambat, tapi memastikan makanan aman. Keselamatan anak-anak prioritas,” tegas Benjamin. Ia juga melaporkan tren insiden keracunan MBG terus menurun. Sepanjang Desember 2025, tercatat 12 kejadian, jauh lebih rendah dibandingkan periode awal program. “Bahkan dalam 19 hari terakhir, tidak ada laporan kejadian atau zero accident. Ini hasil dari pengawasan ketat dan perbaikan sistem,” imbuhnya.






