Kementerian Luar Negeri RI menyatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Caracas terus menjalin komunikasi dengan warga negara Indonesia (WNI) menyusul serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. KBRI Caracas dilaporkan telah menyusun rencana darurat untuk mengevakuasi 37 WNI yang berada di negara tersebut.
“Mengenai upaya mengamankan WNI di Venezuela, KBRI Caracas terus memonitor kondisi dan berkomunikasi dengan para WNI di sana, dan juga telah membuat contingency plan (rencana darurat),” ujar juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl, kepada wartawan pada Selasa (6/1/2026). Ia menambahkan, “Berdasarkan info KBRI Caracas, WNI yang berada di Venezuela sebanyak 37 orang.”
Indonesia, lanjut Vahd, telah menyampaikan sikap resmi terkait konflik antara AS dan Venezuela. Indonesia mendesak semua pihak untuk mengedepankan dialog dan mematuhi hukum internasional.
“Dapat kami sampaikan bahwa Indonesia telah meminta semua pihak menahan diri, mengedepankan dialog, dan menghormati hukum internasional,” tegasnya.
Penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Sabtu (3/1) dini hari merupakan puncak dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap Venezuela. Operasi militer ini sontak menuai kecaman dari sejumlah pemimpin internasional.
AS menuding Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah dan bertanggung jawab atas dukungan terhadap kartel narkoba yang diduga menyebabkan ribuan kematian warga AS akibat penggunaan narkoba ilegal. Sejak September 2025, pasukan AS dilaporkan telah melakukan lebih dari 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba dari Venezuela, yang mengakibatkan lebih dari 100 korban jiwa.
Para ahli hukum menilai aksi militer AS tersebut berpotensi melanggar hukum domestik AS maupun hukum internasional.






