Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyatakan akan segera berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk melakukan normalisasi sungai sebagai langkah penanganan banjir yang melanda wilayahnya. Langkah ini diambil menyusul bencana hidrometeorologi yang merendam 21 desa di sembilan kecamatan.
Koordinasi Penanganan Banjir
Zakiyah menyebutkan bahwa pihaknya akan menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3) dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk meninjau teknis pelaksanaan normalisasi sungai. “Infonya BBWSC3 sudah melihat ke sini, mungkin nanti kita minta tolong turunkan alat ekskavator di daerah sini, untuk menormalisasi sungai dulu untuk tahap pertama,” ujar Zakiyah saat meninjau langsung lokasi banjir di Kampung Kajeroan, Desa Ranca Sanggal, Serang, Senin (22/12/2025).
Dalam kunjungannya, Bupati Serang didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Feriyanto dan Kepala Dinas Sosial Yanti Priyadi Rochdian. Mereka memantau kondisi warga yang bertahan sejak banjir melanda pada Rabu (17/12) malam, dengan genangan air mencapai ketinggian sekitar 50 cm.
“Sangat prihatin, kasihan aktivitas warga semua berhenti karena kondisi banjir. Kami sudah melihat situasinya, ada yang tidak mau dievakuasi karena khawatir harta bendanya hilang,” kata Zakiyah.
Logistik dan Dapur Umum
Selain fokus pada penanganan fisik sungai, Zakiyah juga memastikan ketersediaan logistik bagi warga terdampak. Ia menginstruksikan tim relawan dan BPBD untuk mengantarkan makanan langsung ke rumah warga yang tidak dapat dievakuasi, terutama bagi lansia dan warga yang sakit.
“Saya sampaikan kepada pihak desa dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), kita harus memastikan bahwa warga mendapatkan makanan yang cukup. Nanti minta diantar ke lokasi atau ke rumah warga tersebut,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Serang telah mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan seluruh warga yang terdampak. Zakiyah juga meminta Dinas Sosial untuk segera menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebagai antisipasi jika cuaca ekstrem terus berlanjut.
“Harapan kami, doa kita semua semoga tidak lagi hujan deras, ini cepat surut sehingga warga bisa kembali lagi pulang ke rumahnya masing-masing,” ujarnya.
Ribuan Warga Terdampak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang mencatat bencana hidrometeorologi melanda 21 desa yang tersebar di sembilan kecamatan di wilayah Serang. Bencana ini terjadi akibat cuaca ekstrem yang berlangsung selama periode 16-19 Desember 2025.
Anggota Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Serang, Jhoni Ewangga, menjelaskan bahwa jenis bencana yang terjadi meliputi banjir, cuaca ekstrem, dan pergerakan tanah. “Dampak kejadian ini mengakibatkan 1.295 Kepala Keluarga (KK) atau 4.449 jiwa terdampak. Tidak ada korban jiwa, namun kelompok rentan seperti lansia sebanyak 221 jiwa dan 456 balita turut merasakan dampaknya,” kata Jhoni, Minggu (21/12).
Sembilan kecamatan yang terdampak adalah Padarincang, Cinangka, Gunungsari, Ciruas, Pontang, Bojonegara, Mancak, Waringinkurung, dan Kramatwatu. Selain merendam pemukiman, bencana tersebut menyebabkan kerusakan pada 1.159 unit rumah dan sejumlah fasilitas umum, termasuk Pondok Pesantren Rohudhotul Mutaqin, Masjid Jami Al-Muhajirin, dan bangunan Sekolah Satu Atap di Cikedung.






