Berita

Indonesia dan Belanda Perkuat Kemitraan Budaya: Film, Arsip, hingga Repatriasi Warisan

Advertisement

Jakarta – Indonesia dan Kerajaan Belanda sepakat untuk memperkuat kemitraan strategis di berbagai bidang kebudayaan, mencakup perfilman, arsip, hingga pengelolaan warisan budaya. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan bilateral antara Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Gouke Moes.

Perfilman Indonesia di Kancah Internasional

Pertemuan ini bertepatan dengan penyelenggaraan International Film Festival Rotterdam (IFFR) yang tahun ini menampilkan karya sineas Indonesia. Paviliun Indonesia di IFFR menampilkan dua film pendek, lima film panjang, serta keterlibatan produser nasional dalam berbagai program festival. Menteri Fadli Zon mengapresiasi perhatian IFFR terhadap perfilman Indonesia dan mengusulkan penyelenggaraan ‘Indonesia Focus’ atau ‘Indonesia Spotlight’ pada edisi mendatang.

Kedua negara juga menegaskan komitmen untuk menindaklanjuti Perjanjian Kerja Sama Ko-produksi Audiovisual Indonesia-Belanda yang telah ditandatangani pada 4 Desember 2024. “Saat ini, proses ratifikasi tengah berjalan melalui koordinasi lintas kementerian terkait,” ujar Kementerian Kebudayaan dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1/2026).

Pengembangan talenta perfilman juga diperkuat melalui SAMASAMA Lab, sebuah inisiatif ko-kreasi antara Netherlands Film Fund (NFF), Manajemen Talenta Nasional Kementerian Kebudayaan RI, dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI). Program ini bertujuan membangun ekosistem kreatif lintas negara yang berkelanjutan.

Kerja Sama Arsip dan Repatriasi Warisan Budaya

Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon menekankan pentingnya kerja sama di bidang arsip sejarah dan budaya, khususnya pemanfaatan arsip Belanda yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. “Pemerintah Belanda menyambut baik inisiatif ini dengan semangat kolaborasi, termasuk dalam digitalisasi arsip, akses bersama, penelitian, restorasi film, pameran, serta penguatan kapasitas, dengan menjunjung pendekatan yang etis, inklusif, dan saling menghormati. Kerja sama ini diharapkan dapat melibatkan institusi seperti Eye Film Museum dan KITLV,” ujar Kemenbud.

Advertisement

Terkait isu repatriasi, Fadli Zon mengapresiasi pendekatan cultural and historical justice pemerintah Belanda dalam pengembalian warisan budaya Indonesia, termasuk koleksi Dubois yang kini dipamerkan di Museum Nasional Indonesia. Indonesia juga mengusulkan percepatan repatriasi 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan (WBBK) yang telah direkomendasikan pengembaliannya oleh Colonial Collection Committee (CCC).

Secara khusus, Indonesia mengusulkan repatriasi koleksi karya dan peninggalan Raden Saleh yang berada di Museum Naturalis, Belanda, sebagai upaya pemulihan sejarah seni dan identitas budaya nasional.

Dukungan untuk UNESCO

Pada kesempatan yang sama, Fadli Zon memohon dukungan Kerajaan Belanda terhadap pencalonan Indonesia sebagai Anggota Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda (ICH) periode mendatang. Pemilihan anggota komite tersebut akan berlangsung pada Juni 2026.

“Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk terus membangun hubungan budaya yang setara, kolaboratif, dan berorientasi ke masa depan, dengan kebudayaan sebagai jembatan dialog, keadilan sejarah, dan kerja sama internasional yang berkelanjutan,” ungkap Kemenbud.

Advertisement