Program ‘Keluarga Siaga Dukung Kesehatan, Siap Hadapi Masa Depan’ (SIGAP) kini hadir di Brebes, Sukabumi, dan Banjar, melanjutkan kesuksesan fase percontohan. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat kesehatan keluarga melalui imunisasi, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), dan pemenuhan gizi anak di bawah dua tahun (Baduta).
Fase perluasan program ini merupakan hasil kemitraan lintas sektor antara Gavi, the Vaccine Alliance, Unilever Lifebuoy, dan The Power of Nutrition, yang bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah. Program SIGAP mengintegrasikan pesan kesehatan ke dalam layanan yang sudah ada, seperti Posyandu, kunjungan rumah, PAUD, hingga kanal digital, agar lebih mudah diakses dan diterapkan oleh keluarga.
Prioritas Nasional: Penguatan Layanan Primer
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, dr. Niken Wastu Palupi, menegaskan bahwa program Keluarga SIGAP selaras dengan prioritas Kementerian Kesehatan dalam penguatan pilar pertama, yaitu layanan primer yang berfokus pada upaya promotif dan preventif. “Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar tahu soal kesehatan, tapi benar-benar mengubah perilaku mereka sehari-hari. Jika kita berhasil memperkuat layanan primer melalui Keluarga SIGAP, kita sedang menyiapkan pondasi bagi Indonesia Emas 2045,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (19/1/2026).
Program ini mencatat berbagai pembelajaran penting terkait perubahan perilaku terintegrasi melalui layanan kesehatan primer, termasuk capaian terkuat, faktor pendukung, dan respons keluarga terhadap dukungan yang konsisten.
Imunisasi: Kenaikan Cakupan dan Kepercayaan Vaksin
Program Keluarga SIGAP berhasil berkontribusi pada penguatan imunisasi rutin dengan kenaikan rata-rata cakupan sekitar 15% di tiga kabupaten perluasan. Di Banjar, cakupan imunisasi melonjak dari 37% menjadi 59%. Kepercayaan terhadap vaksin juga meningkat, terlihat dari kenaikan hampir dua kali lipat cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes dan booster polio di Banjar yang mencapai sekitar 80%.
Managing Director of Innovative Partnerships Gavi, the Vaccine Alliance, Augustin Flory, menjelaskan bahwa peningkatan kepercayaan ini didukung oleh penyampaian pesan imunisasi yang terintegrasi dengan praktik pengasuhan sehari-hari. “Keluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi nasional Indonesia dapat diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Dengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti gizi dan kebersihan, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin, sehingga anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia,” terangnya.
Pendekatan terintegrasi ini juga meningkatkan kepercayaan orang tua terhadap efek samping ringan vaksin, mendorong konsistensi dalam menyelesaikan jadwal imunisasi. Lebih dari 80% pengguna WhatsApp Bot SIGAP memilih menerima pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.
CTPS: Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Kebiasaan Sehari-hari
Di bidang Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), perubahan perilaku terjadi lebih cepat ketika keluarga memiliki motivasi dan sarana yang memadai. Sekitar 7% lebih banyak rumah tangga SIGAP kini memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun. Lingkungan yang mendukung ini berkontribusi pada perubahan perilaku di enam momen penting CTPS, dengan tingkat kepatuhan meningkat sebesar 6,4%. Motivasi mencuci tangan bergeser ke alasan kesehatan dan kebersihan, serta adanya peningkatan keterlibatan ayah sebesar 13%.
Global Brand Director Lifebuoy, Parnil Sarin, menekankan pentingnya kebiasaan harian sebagai kunci perubahan perilaku. “SIGAP menunjukkan bagaimana perilaku perlindungan utama, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun, dan gizi, dapat menjadi kebiasaan nyata ketika keluarga bisa melihat, merasakan, dan mempraktikkannya dalam rutinitas sehari-hari. Dengan memperluas pembelajaran dari rumah dan sekolah ke platform digital serta media massa, program ini membantu mempertahankan perilaku tersebut dalam skala yang lebih luas dan menjadikan CTPS bagian dari perjalanan kesehatan anak,” jelasnya.
Nutrisi: Mendukung Praktik Pemberian Makan Anak yang Lebih Baik
Dalam bidang gizi, terjadi peningkatan praktik pemberian makan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan. Inisiasi menyusu dini naik 4,4%, sementara anak yang mencapai keanekaragaman pangan minimum meningkat hingga 6,8%. Peningkatan ini didukung oleh alat bantu praktis yang sejalan dengan dinamika keluarga.
Sebanyak 96% pengguna menyebut alat pelacak gizi SIGAP membantu memahami pola makan harian anak dan mendorong peran orang tua dalam pemenuhan gizi. CEO The Power of Nutrition, Chris Skeet, menilai keberhasilan ini lahir dari kolaborasi dan pendekatan berbasis keluarga. “SIGAP mencerminkan kekuatan kemitraan dalam mendukung gizi di tempat yang paling penting, yaitu di rumah, setiap hari. Dengan menggabungkan alat praktis, pembelajaran bersama bagi orang tua, dan keterlibatan tenaga kesehatan di lapangan, program ini menunjukkan bagaimana pesan berbasis bukti dan komunikasi perubahan perilaku dapat membantu keluarga mempertahankan praktik pemberian makan yang lebih sehat dan membangun ketahanan jangka panjang,” tuturnya.
Memperluas Jangkauan melalui Media dan Digital
Fase perluasan Keluarga SIGAP juga memanfaatkan media dan platform digital untuk memperluas jangkauan. Selama periode 1 Mei hingga 30 November 2025, iklan layanan masyarakat SIGAP menjangkau lebih dari 4,7 juta orang melalui televisi dan platform digital. Di media sosial, konten SIGAP mencatat lebih dari 1,14 miliar impresi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Di YouTube, terdapat 8,1 juta tayangan selesai, sementara iklan bumper enam detik mencatat lebih dari 130 juta tayangan. Kampanye Always On di Instagram dan Facebook menghasilkan 722 juta impresi dengan jangkauan lebih dari 40 juta orang. Konten dari para influencer berhasil menjangkau 17,9 juta orang di Instagram dan 11,8 juta di TikTok.
Dengan keterlibatan komunitas, pelatihan interaktif, serta dukungan media dan digital, Keluarga SIGAP dirancang sebagai program yang berkelanjutan dan siap diperluas. Pembelajaran dari fase perluasan ini menjadi dasar pengembangan program agar lebih banyak keluarga menerapkan perilaku pencegahan demi masa depan anak Indonesia yang lebih sehat.






