Berita

Ketahanan Pangan di Lapas: Panen Sayur hingga Produksi VCO Jadi Ikon Baru

Advertisement

Awal tahun 2026 menandai geliat ketahanan pangan yang signifikan di berbagai lembaga pemasyarakatan (lapas) di Indonesia. Program ini mencakup budidaya sayuran hingga produksi produk bernilai tambah seperti Virgin Coconut Oil (VCO), sejalan dengan penjabaran Asta Cita Presiden dan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.

Potensi Lahan Lapas untuk Swasembada Pangan

Menteri Agus Andrianto menilai lahan di kompleks lapas memiliki potensi besar untuk mendukung swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan produktivitas warga binaan. Konsep ini diimplementasikan di beberapa lapas, salah satunya Lapas Kelas IIB Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Panen Sawi dan Rencana Pengembangan di Lapas Atambua

Pada Sabtu (3/1/2026), petugas dan narapidana di Lapas Atambua berhasil memanen 250 kilogram sawi. Budidaya sawi ini digarap oleh empat narapidana selama kurang lebih satu bulan. Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Andra Sukabir, dikutip dari situs Direktorat Permasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Senin (5/1), menyatakan bahwa semangat dan ketelatenan menjadi kunci dalam mengelola tanaman.

“Kami selalu memberikan mereka semangat bahwa mengelola tanaman membutuhkan ketelatenan dan kesabaran,” ujar Andra Sukabir. Ia menambahkan bahwa tantangan seperti cuaca panas dan kekurangan air diatasi dengan sistem drainase yang baik.

Seorang narapidana, Matias, mengungkapkan pengalamannya, “Proses budidaya sawi membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Ini mengajarkan kami lebih disiplin dan menghargai proses. Di sini saya belajar bahwa tanah bisa memberi kehidupan jika kita mau mengusahakannya. Panen ini membuat saya merasa berguna lagi.”

Dengan keberhasilan panen sawi, Lapas Atambua berencana menanam cabai, tomat, dan sayuran hidroponik untuk memaksimalkan lahan yang ada.

Produksi VCO La’Bua: Inovasi dari Kelapa

Selain budidaya sayuran, Lapas Atambua juga memfasilitasi produksi virgin coconut oil (VCO) dengan nama VCO La’Bua. Bermodal 50 buah kelapa, para napi mengolahnya selama lima hari, mulai dari pengupasan hingga fermentasi santan selama 30 menit dengan air panas.

“Kuncinya terletak pada ketelitian ekstraksi santan dan masa fermentasi selama 2 x 24 jam. Kami memastikan pemisahan minyak dan air terjadi sempurna untuk hasil maksimal sebelum masuk ke tahap pengemasan,” jelas Andra Sukabir.

Dari 50 buah kelapa, dihasilkan 30 botol VCO berukuran 100 ml. Pelatihan pengolahan kelapa yang diadakan pada November 2025 membuka pandangan para napi. Salah satu napi, Nico, menyatakan, “Pelatihan ini membuka mata kami. Kami jadi punya kepercayaan diri untuk membuka usaha sendiri setelah bebas nanti sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat.”

VCO La’Bua kini telah mengantongi Nomor Induk Berusaha dan izin Produksi Pangan Industri Rumah Tangga.

Advertisement

Hasil Lapas Dijual ke Pasar Lokal

Kepala Lapas Atambua, Bambang Hendra Setyawan, menegaskan bahwa lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga pusat pelatihan dan pembinaan yang berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

“Hasil panen (sayur) tersebut akan dijual ke pasar lokal dan masyarakat sekitar sebagai bukti bahwa di balik tembok Lapas ada proses pembinaan, pemberdayaan, dan harapan yang terus tumbuh. Ini adalah bukti nyata bahwa Lapas bisa menjadi tempat produktif dan bermanfaat,” tegas Bambang. Ia menambahkan bahwa program kemandirian ini menjadi bekal nyata bagi warga binaan, dan pengolahan kelapa sangat relevan dengan potensi lokal.

Lapas Tolitoli Raih 30 Kg Sayur Per Hari

Program ketahanan pangan juga menuai hasil di Lapas IIB Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng), dengan produksi 30 kg sayur per hari. Lahan ini digarap oleh tujuh narapidana yang telah menerima pelatihan teknik pertanian efektif dari pihak profesional.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak didik dan Kegiatan Kerja, Feldianto, menjelaskan kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan. “Mereka belajar bekerja secara terstruktur dan memahami proses pertanian dari awal hingga panen sehingga nilai edukatifnya sangat kuat,” katanya pada Sabtu (3/1).

Kepala Lapas Tolitoli, Mansur Yunus Gafur, berharap kegiatan ini mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan dan pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri.

Lapas Wahai Cegah Gagal Panen Jagung

Di Lapas Kelas III Wahai, Maluku Tengah, petugas dan narapidana bekerja sama melindungi ribuan tanaman jagung dari angin kencang pada Jumat (2/1). Upaya mitigasi ini meliputi pembuatan penopang tambahan dan penguatan tanggul.

“Ini merupakan mitigasi yang wajib dilaksanakan karena di tengah musim penghujan yang sering disertai angin kencang, inisiatif perlindungan tanaman menjadi sangat krusial. Kami tidak hanya fokus menanam, tetapi juga harus tanggap menghadapi berbagai kondisi, termasuk angin kencang yang bisa menyebabkan bencana dan gagal panen,” terang Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya.

Usman Bakri, Kepala Subseksi Keamanan dan Ketertiban Lapas Wahai, menjelaskan bahwa mitigasi ini menjadi bagian integral dari edukasi kemandirian pangan bagi narapidana. “Melalui kegiatan nyata di lapangan, kami mengajarkan Warga Binaan cara-cara praktis mitigasi risiko pertanian. Mereka belajar mengenali tanda-tanda cuaca dan teknik sederhana, namun efektif untuk melindungi tanaman dari kerusakan angin, seperti membuat penopang yang kuat,” jelasnya.

Program pertanian jagung di Lapas Wahai sebelumnya berhasil dengan panen raya 1,2 ton pada Oktober 2025, berkontribusi pada ketahanan pangan daerah.

Advertisement