Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan menanggapi hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang menunjukkan mayoritas publik menolak usulan pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD. Daniel menilai wacana tersebut masih perlu dikaji secara objektif demi memperkuat demokrasi.
Wacana Pilkada DPRD Perlu Kajian Objektif
Menurut Daniel, usulan Pilkada melalui DPRD merupakan upaya agar demokrasi lebih efektif dalam membawa kesejahteraan rakyat. Ia menegaskan bahwa mekanisme tersebut adalah bagian utuh dari prinsip demokrasi, asalkan dirancang dengan tata kelola yang kuat dan terbuka.
“Usulan melalui DPRD merupakan upaya agar demokrasi semakin efektif membawa kesejahteraan rakyat, dan mekanisme ini merupakan bagian utuh dari prinsip demokrasi, selama dirancang dengan tata kelola yang kuat dan terbuka,” kata Daniel kepada wartawan, Kamis (8/1/2026).
Ia menambahkan, salah satu aspek penting yang bisa diperkuat dalam skema Pilkada lewat DPRD adalah pelaksanaan uji publik calon kepala daerah secara terbuka dan partisipatif. Dengan mekanisme tersebut, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menilai rekam jejak, kapasitas, dan integritas para calon.
“Dengan begitu, suara publik tetap menjadi faktor penentu dalam proses politik,” ujarnya.
Menekan Biaya Politik dan Menghadirkan Pemimpin Berkualitas
Daniel juga mengemukakan bahwa Pilkada lewat DPRD berpotensi menekan biaya politik yang selama ini kerap menjadi persoalan dalam demokrasi elektoral.
“PKB berpandangan bahwa diskursus ini masih terbuka untuk dikaji lebih dalam, dengan melibatkan publik secara luas, agar mekanisme yang dipilih benar-benar memperkuat demokrasi, menghadirkan pemimpin berkualitas, dan berpihak pada kepentingan rakyat,” paparnya.
Ia merujuk pada masa lalu, di mana gubernur yang dipilih adalah bupati dan wali kota terbaik, yang dinilai mampu bekerja dan diandalkan untuk kemajuan daerah serta kesejahteraan rakyat, bukan sekadar popularitas.
“Dulu setiap gubernur yang dipilih merupakan para bupati dan wali kota terbaik yang ada saat itu, sehingga benar-benar bisa bekerja dan diandalkan dalam membawa kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar popularitas, dan kita berharap hal itu bisa kita wujudkan kembali,” imbuh dia.
Hasil Survei LSI Denny JA
Sebelumnya, LSI Denny JA merilis hasil survei yang menunjukkan mayoritas responden tidak setuju dengan usulan Pilkada melalui DPRD. Generasi Z menjadi kelompok yang paling keras menolak wacana tersebut.
Dalam survei tersebut, responden diberi pertanyaan: ‘Apakah Ibu/Bapak setuju atau tidak setuju wacana Pilkada tidak langsung atau dipilih oleh DPRD’. Hasilnya, 66,1 persen menyatakan kurang setuju atau tidak setuju sama sekali, sementara 28,6 persen menyatakan sangat setuju atau cukup setuju. Sisanya, 5,3 persen, tidak tahu atau tidak menjawab.
“Jadi dari data ini kita lihat bahwa di atas 65 persen menolak pilkada DPRD,” kata Ardian Sopa saat merilis hasil survei di Jakarta, Rabu (7/1/2026).






