Kepolisian Resor Metro Depok membantah narasi yang menyebutkan bahwa pemilik akun e-mail yang menyebarkan teror bom ke 10 sekolah di Depok, Jawa Barat, adalah korban pemerkosaan. Pihak kepolisian menegaskan bahwa cerita tersebut merupakan karangan pelaku.
Sebelumnya, beredar informasi yang mengaitkan aksi teror bom tersebut dengan kasus pemerkosaan. Pelaku disebut-sebut mengaku tidak terima karena hamil dan pelaku pemerkosaan tidak bertanggung jawab. Namun, Kepala Seksi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi menyatakan, “Tidak benar (wanita K korban pemerkosaan). Pelakunya hanya mengarang cerita saja.”
AKP Made Budi menambahkan bahwa wanita berinisial K, yang merupakan pemilik akun e-mail dan TikTok yang digunakan untuk mengirimkan ancaman, membantah keterlibatannya. Ia mengaku akunnya telah diretas. “Iya si K itu, pemilik e-mail itu, pemilik TikTok itu. Tapi berdasarkan pemeriksaan awal, dia tidak mengaku bukan dia gitu. Iya ngakunya begitu (diretas),” ujar Made.
Meskipun demikian, kepolisian masih mendalami keterangan dari wanita K. Pacar wanita K juga dijadwalkan akan dipanggil sebagai saksi untuk dimintai keterangan terkait kasus ini. “Cuma tetap kita masih terus telusuri apakah dia berbohong atau karena memang di-hack kan kita masih terus kita dalami gitu,” tutur Made.
10 Sekolah Dipastikan Aman
Polisi juga telah melakukan pemeriksaan menyeluruh di 10 sekolah yang menerima ancaman bom. Hasilnya, situasi di seluruh sekolah dipastikan aman dan tidak ditemukan benda berbahaya.
“Sudah semua dicek, dipastikan aman. Tak ada benda berbahaya ditemukan,” tegas Made. Penyisiran dilakukan oleh anggota Detasemen Gegana Brimob Polri bersama jajaran Polres Metro Depok.
Saat ini, kepolisian masih mendalami motif di balik aksi peneror bom tersebut. “Untuk motif maupun ancaman yang disampaikan oleh terduga pelaku memang isi dari e-mail yang disampaikan oleh pelaku bahwa pelaku merasa kesal ataupun merasa kecewa,” ungkap Made.






