Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menggelar dialog santai dengan warga yang sebelumnya tinggal di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Nanas, Jakarta Timur, di Rusun Pulo Gebang, Jakarta Timur, pada Senin (12/1/2026). Pertemuan ini menjadi momen untuk mendengar langsung pengalaman warga setelah direlokasi ke rumah susun yang dinilai lebih layak dan manusiawi.
Cerita Mistis dan Tawa di Tengah Relokasi
Dalam perbincangan yang akrab, Pramono Anung sempat menanyakan pengalaman warga selama bermukim di area TPU Kebon Nanas. Salah seorang warga perempuan yang mengenakan jilbab menceritakan momen mistis yang pernah dialaminya.
“Bu, kira-kira yang anu itu apa bentuknya?” tanya Pramono kepada salah satu warga.
“Kayak kuntilanak, Pak,” jawab warga tersebut, yang mengaku pernah melihat penampakan serupa saat masih tinggal di TPU Kebon Nanas. Ia menambahkan bahwa meskipun pernah melihat hal-hal yang merindingkan, rasa takutnya perlahan hilang karena sudah terbiasa tinggal bertahun-tahun di sana. “Iya, ada. Tapi nggak takut, Pak,” ucapnya.
Pramono Anung merespons pernyataan tersebut dengan nada bercanda, bahkan sempat menyarankan wartawan yang hadir untuk mencoba uji nyali di lokasi TPU Kebon Nanas. Pernyataan ini disambut gelak tawa oleh warga yang hadir.
Kehidupan Lebih Manusiawi di Rusun
Di balik candaan tersebut, warga mengungkapkan rasa syukurnya atas fasilitas yang lebih memadai di rumah susun. Guntur, salah seorang warga yang telah 17 tahun tinggal di TPU Kebon Nanas sebelum direlokasi, menyatakan perasaannya.
“Dulu ya nyaman-nyaman aja, sudah biasa. Tapi kalau sekarang kan lebih manusiawi, Pak,” kata Guntur. Ia merinci fasilitas di rumah susun yang jauh lebih lengkap, meliputi playground, jogging track, masjid, lapangan futsal, hingga taman yang membuat anak-anak betah.
Program Relokasi Pemprov DKI Jakarta
Relokasi warga TPU Kebon Nanas merupakan bagian dari program pengembalian fungsi lahan pemakaman oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dari total 103 kepala keluarga (KK) yang terdata, sebanyak 73 KK bersedia direlokasi ke rumah susun, sementara 30 KK lainnya memilih untuk mencari tempat tinggal sendiri.
Pramono Anung mengakui bahwa proses relokasi ini tidak mudah. “Walaupun kadang-kadang dilihatin yang nggak-nggak, tapi sudah kerasan. Kalau orang sudah kerasan, ya apa saja,” ujarnya, merujuk pada kedekatan emosional warga dengan tempat tinggal lama mereka.
Untuk mendukung adaptasi warga di lingkungan baru, Pemprov DKI Jakarta memberikan sejumlah fasilitas. Warga relokasi mendapatkan pembebasan biaya sewa rumah susun selama enam bulan. Khusus bagi warga lanjut usia (lansia), hunian digratiskan seumur hidup. Selain itu, pendampingan sosial dan ekonomi juga disiapkan untuk membantu warga beradaptasi.






