Pemain bintang Senegal, Sadio Mane, yang baru saja mengantarkan negaranya menjuarai Piala Afrika 2025/26, menyatakan tidak ingin dikenang sebagai legenda sepak bola. Ia lebih memilih untuk diingat sebagai pribadi yang baik dan gemar membantu sesama.
Karier Gemilang dan Kerendahan Hati
Mane, yang kini berusia 33 tahun, telah meraih berbagai trofi bergengsi sepanjang kariernya. Bersama Liverpool, ia memenangkan Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, serta berbagai gelar domestik Inggris. Kepindahannya ke Bayern Munich juga berbuah manis dengan gelar Bundesliga.
Terbaru, Mane kembali mengangkat trofi Piala Afrika bersama Senegal setelah mengalahkan tuan rumah Maroko dengan skor 1-0 di partai final. Ini merupakan gelar Piala Afrika kedua bagi Mane, setelah sebelumnya sukses pada edisi 2022.
Fokus pada Kemanusiaan
Meskipun memiliki karier yang cemerlang, Mane menegaskan prioritasnya. “Saya tidak mau dikenang sebagai legenda sepakbola, saya cuma mau dikenang sebagai pribadi yang baik,” ujar Mane kepada BBC. Ia menambahkan, “Tentu saja saya adalah seorang pesepakbola, tapi lebih penting menjadi pribadi yang baik karena ada banyak sekali hal yang lebih penting dari sepakbola.”
Pernyataan ini selaras dengan kiprahnya di kampung halaman, Desa Bambali, Senegal. Selama satu dekade terakhir, Mane telah memberikan kontribusi signifikan dengan mendirikan sekolah, rumah sakit, dan menyediakan akses internet. Ia juga aktif memberikan bantuan makanan dan uang tunai kepada masyarakat setempat, sebuah dedikasi yang lebih sering terungkap dari penuturan orang lain ketimbang dari dirinya sendiri.
Masa Depan di Lapangan Hijau
Kontrak Mane bersama klub Arab Saudi, Al Nassr, akan berakhir pada musim panas 2026. Hingga kini, belum ada tanda-tanda perpanjangan kontrak. Dengan usianya yang sudah memasuki paruh baya dalam karier sepak bola, Mane mengisyaratkan kemungkinan untuk pensiun dalam satu atau dua musim ke depan, baik di level klub maupun internasional.
Sumber: 90Menit.ID






