Tambun Selatan, Bekasi – Seorang remaja berusia 16 tahun di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, membuat orang tuanya kewalahan hingga harus meminta bantuan petugas pemadam kebakaran (damkar). Remaja tersebut diketahui bersembunyi dan menolak untuk disunat.
Drama Penolakan Sunat
Peristiwa unik ini terjadi pada Senin (5/1) pagi di Kampung Pekopen, Desa Lambang Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Jawa Barat. Pihak orang tua melaporkan kepada petugas damkar bahwa anak mereka yang sudah beranjak remaja terus menghindar ketika diminta untuk menjalani sunat.
Danru Damkar Kabupaten Bekasi, Hoiru Syahrial, menjelaskan bahwa salah satu keluarga pelapor ternyata juga bekerja di damkar. “Kemarin kami dapat laporan dari warga, kebetulan salah satu keluarga tersebut juga kerja di damkar. Sebelumnya, si anak disuruh sunat nggak mau,” ujar Hoiru pada Selasa (6/1/2026).
Tiga personel damkar kemudian mendatangi rumah pelapor. Sesampainya di lokasi, remaja yang dicari ternyata bersembunyi di rumah neneknya. Proses persuasi berlangsung cukup lama dan diwarnai drama karena ABG tersebut terus menolak.
Damkar Turun Tangan
Situasi semakin menegangkan ketika pihak keluarga memberikan izin kepada petugas damkar untuk mendobrak pintu yang dikunci oleh remaja tersebut. “Kemarin si bocah ngumpet di rumah neneknya. Kata keluarganya bilang ‘dobrak aja’, ya akhirnya kita dobrak. Ya prosesnya dramatis sih karena si anak juga ngamuk menolak disunat,” tutur Hoiru.
Setelah berhasil dikeluarkan dari rumah neneknya, petugas damkar sempat membujuk remaja tersebut untuk masuk ke dalam mobil, didampingi oleh pihak keluarga. Suasana perlahan menjadi kondusif.
“Sesudah dipaksa masuk mobil, terus dibilang keluarganya, sekalian dibawa ke mantri sunat aja. Ortunya sempat minta mamang-nya juga yang TNI dan polisi dulu, si anak nggak mau,” jelas Hoiru.
Remaja berusia 16 tahun itu akhirnya dibawa ke seorang mantri sunat di Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi. Pada sore harinya, petugas damkar mengantarkan kembali remaja tersebut ke rumah setelah proses sunat selesai.
Biaya dan Alasan Penolakan
Mengenai biaya, pihak keluarga telah menyediakannya. Hoiru menambahkan bahwa mereka mendapatkan keringanan biaya dari mantri sunat. “Untuk pembiayaan, si keluarga sudah menyediakan. Alhamdulillah kita dapat korting. Karena saya bilang ke mantrinya ‘minta tolong, Pak, dibawa ke sini aja udah alhamdulillah, akhirnya dikasih kortingan untuk biayanya’,” ungkapnya.
Kepulangan remaja tersebut disambut oleh tetangga yang mencoba menghiburnya. Remaja itu mengaku berulang kali menolak sunat karena rasa takut. “Alasannya ‘saya takut, Pak’. Si anak usianya udah 16 tahun, kondisi si anak putus sekolah,” kata Hoiru menirukan pengakuan remaja tersebut.






