Banjir merendam tiga kecamatan di Kota Cilegon, Banten, akibat meluapnya kali dan jebolnya tanggul. Sejumlah warga dilaporkan masih mengungsi akibat genangan air yang mencapai ketinggian bervariasi antara 20 hingga 60 cm, dengan banjir terparah terjadi di Kecamatan Cibeber.
Banjir Melanda Tiga Kecamatan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilegon, Suhendi, menjelaskan bahwa banjir terjadi di tiga wilayah, yaitu Cibeber, Jombang, dan Ciwandan. Ketinggian air di lokasi terdampak bervariasi, mencapai sekitar 60 cm. Penyebab utama banjir adalah luapan Sungai Cibeber dan jebolnya tanggul.
“Tiga kecamatan. Cibeber, Jombang, Ciwandan. Ketinggian bervariasi. Sekitar 60 cm-an. Luapan kali, sungai Cibeber. Ada juga tanggul yang jebol,” ujar Suhendi pada Senin (12/1/2025).
Penyebab Banjir di Setiap Kecamatan
Di Kecamatan Jombang, banjir terjadi akibat luapan Kali Nyikambang yang merendam permukiman warga. Sementara itu, banjir di Kecamatan Ciwandan disebabkan oleh minimnya fungsi drainase.
“Jombang di Kranggot itu luapan kali Nyikambang. Ciwandan di depan Koramil. Itu drainasenya kurang berfungsi,” jelas Suhendi.
Wilayah Rawan Banjir
Suhendi menambahkan bahwa ketiga kecamatan yang dilanda banjir sejak Minggu (11/1/2025) tersebut memang merupakan wilayah yang rawan banjir. Ia juga menyebutkan bahwa wilayah lain seperti Pulomerak dan Grogol sebelumnya juga sempat terdampak banjir, namun kini sudah aman. Kondisi banjir sangat bergantung pada intensitas curah hujan di suatu wilayah.
“Tiga kecamatan itu memang rawan. Sebelumnya di Pulomerak, Grogol, sekarang sudah aman. Tergantung curah hujan tingginya di mana. Kadang di Merak juga masih banjir,” tuturnya.
Warga Mengungsi
Akibat banjir tersebut, beberapa warga terpaksa mengungsi di tempat yang lebih aman seperti masjid, sekolah, musala, dan madrasah. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa sebagian warga masih bertahan di pengungsian, sementara yang lain telah kembali ke rumah mereka setelah genangan air surut.
“Yang mengungsi masih di wilayah situ, seperti di Sambirata itu ada di masjid, musola, madrasah, dan rumah rumah yang aman, yang rumahnya masih terendam, mungkin masih. Tapi kalau yang sudah surut sudah pulang,” pungkas Suhendi.






