Rapat Koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana di Aceh pada Sabtu (10/1/2026) diwarnai kelakar antara Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam forum yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan kemudian diambil alih oleh Tito selaku Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, Tito sempat melontarkan candaan mengenai potensi bahaya jika Purbaya ‘ngambek’.
Pembentukan Satgas Pascabencana
Tito Karnavian menjelaskan pembentukan satgas yang baru saja menerima Keputusan Presiden (Keppres) tertanggal 8 Januari 2026. Tugas utama satgas ini adalah mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, meskipun bekerja di tengah situasi tanggap darurat.
Ia merinci struktur satgas yang terdiri dari tim pengarah dan tim pelaksana. Tim pengarah diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), dengan anggota seluruh Menko, Panglima TNI, dan Kapolri. Sementara itu, tim pelaksana diketuai oleh Menteri Dalam Negeri, dengan empat wakil ketua: Kasum TNI Letjen Richard Tarigan Tampubolon, Kepala BNPB Suharyanto, Komandan Brimob Polri Komjen Ramdani, dan Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Roeslani. Terdapat pula bidang-bidang spesifik seperti Penyusunan Rencana Induk, Penyediaan Lahan, dan Pengelolaan Data.
Kelakar Tito Soal Purbaya
Di tengah penjelasan struktur satgas, Tito tiba-tiba teringat belum menyebutkan nama Purbaya Yudhi Sadewa dalam jajaran tim pengarah. “Saya lupa menyampaikan ini, kualat ini kalau nggak, nanti ini, karena kalau beliau ngambek, beliau ngambek, kita chat mau rapat sampai malam juga percuma juga kita nanti. Iya, nggak ada pitinya, ha-ha…” kata Tito, disambut tawa peserta rapat.
Tito berkelakar bahwa melupakan nama Purbaya akan berbahaya karena jika Menteri Keuangan ‘ngambek’, hal tersebut akan berdampak pada kelancaran pembayaran proyek-proyek rehabilitasi dan rekonstruksi.
Respons Purbaya Yudhi Sadewa
Menanggapi candaan Tito, Purbaya Yudhi Sadewa merespons dengan gaya santai khasnya. Ia mengaku ‘ngambek’ jika uang yang telah disediakannya, bahkan melalui utang, tidak kunjung terpakai.
“Seperti biasa, Pak, saya hanya bagian akhir, cuma hitung-hitung duit. Saya di sini, sama Pak Tito kalau nggak disebut namanya, ngambek katanya,” ujar Purbaya.
“Oke, Pak, jadi saya mesti balas. Kalau nggak disebut nama, ngambek. Saya ngambek kalau uangnya sudah disediain pakai utang, nggak dipakai juga,” imbuhnya, yang berhasil mencairkan suasana rapat.
Purbaya menambahkan kekecewaannya jika uang pajak dan bea cukai yang telah dikumpulkan tidak dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang masih terdampak bencana. “Jadi saya kumpulin uang banyak, gebuk-gebuk orang pajak, bea cukai ditumpuk di sana, nggak dipakai. Padahal di sini bencananya masih susah masyarakatnya. Itu saja, Pak,” pungkasnya.






