Sepakbola

UEFA Larang Gianluca Prestianni Main Lawan Madrid Akibat Dugaan Rasisme Terhadap Vinicius Junior

Advertisement

Jakarta – Gelandang muda Benfica, Gianluca Prestianni, dijatuhi hukuman larangan tampil sementara oleh UEFA menyusul dugaan tindakan rasisme terhadap penyerang Real Madrid, Vinicius Junior. Hukuman ini berlaku untuk leg kedua playoff Liga Champions yang akan datang.

Insiden di Lisbon

Peristiwa yang memicu investigasi ini terjadi pada leg pertama playoff Liga Champions di Lisbon pekan lalu. Prestianni diduga melontarkan hinaan bernada rasisme, memanggil Vinicius Junior dengan sebutan “monyet”, sesaat setelah pemain asal Brasil itu berhasil mencetak gol ke gawang Benfica. Vinicius Junior segera melaporkan insiden tersebut kepada wasit Francois Letexier. Laporan ini berujung pada penghentian sementara pertandingan selama delapan menit, mengikuti protokol anti-rasisme yang berlaku.

Proses Investigasi UEFA

Menyikapi laporan tersebut, UEFA segera meluncurkan investigasi mendalam. Prestianni sendiri telah membantah melakukan penghinaan. Namun, Kylian Mbappe, rekan setim Vinicius Junior di Real Madrid, memberikan keterangan yang berbeda. Mbappe mengaku mendengar Prestianni memanggil Vinicius dengan sebutan “monyet” sebanyak lima kali. Baik Benfica maupun Real Madrid menyatakan pembelaan terhadap pemain masing-masing, menegaskan bahwa mereka tidak bersalah.

UEFA menunjuk seorang inspektur etika dan disiplin untuk menangani kasus ini, mengumpulkan bukti dari semua pihak yang terlibat. Sorotan publik terhadap kasus ini sangat luas, menuntut tindakan tegas dari otoritas sepak bola Eropa.

Keputusan Sementara UEFA

Pada Senin (23/2/2026), laporan dari The Athletic mengindikasikan bahwa UEFA telah memutuskan untuk menangguhkan sementara Gianluca Prestianni. Keputusan ini secara spesifik melarangnya bermain dalam leg kedua melawan Real Madrid yang dijadwalkan berlangsung di Santiago Bernabeu pada Kamis (26/2/2026) pukul 03.00 WIB. Hukuman ini bersifat sementara, sembari menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.

Dalam pernyataan resminya, UEFA menjelaskan, “Menyusul penunjukan Inspektur Etika dan Disiplin UEFA (EDI) untuk menyelidiki dugaan perilaku diskriminatif selama laga play-off Liga Champions 2025/2026 antara Benfica dan Real Madrid pada 17 Februari 2026, dan atas permintaan EDI dengan laporan sementara, maka Komite Kontrol, Etika, dan Disiplin UEFA (CEDB) hari ini memutuskan untuk menangguhkan sementara Gianluca Prestianni untuk satu laga kompetisi klub UEFA berikutnya yang seharusnya ia ikuti karena pelanggaran prima facie Pasal 14 Aturan Disiplin UEFA terkait perilaku diskriminatif.”

Advertisement

UEFA menambahkan, “Hal ini tidak mengurangi putusan apa pun yang mungkin dikeluarkan komite disiplin UEFA jika investigasi telah selesai dan diajukan kepada komite disiplin UEFA. Informasi lebih lanjut mengenai masalah ini akan tersedia pada waktunya.”

Klarifikasi dan Ancaman Sanksi

Laporan terpisah dari ESPN mengungkap adanya klarifikasi dari Prestianni. Saat dimintai keterangan oleh UEFA, ia mengaku menggunakan sebutan “maricon” yang dalam bahasa Spanyol berarti “gay”, bukan “mono” (monyet). Meskipun berbeda, kedua sebutan tersebut tetap masuk dalam kategori pelanggaran Pasal 14 Aturan Disiplin UEFA.

Jika terbukti bersalah atas tuduhan rasisme, Prestianni menghadapi ancaman sanksi minimal larangan bermain sebanyak 10 pertandingan. Selain itu, Benfica diwajibkan untuk menyelenggarakan program kesadaran anti-rasisme bagi pemainnya.

Latar Belakang Rasisme Terhadap Vinicius Junior

Kasus ini menambah daftar panjang insiden rasisme yang dialami Vinicius Junior selama berseragam Real Madrid. Tercatat, lebih dari 20 kali pemain asal Brasil ini menjadi sasaran perlakuan rasisme dari suporter lawan. Beberapa kasus bahkan berujung pada penangkapan dan pemenjaraan pelaku.

Sumber: 90Menit.ID

Advertisement