Berita

Wamendagri Bima Arya: Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana Sumatra Perlu Gerak Bersama

Advertisement

Aceh Utara – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya kolaborasi dalam upaya percepatan rehabilitasi lahan sawah yang terdampak bencana di wilayah Sumatra. Pemerintah pusat, melalui Kementerian Pertanian, telah menginisiasi berbagai langkah pemulihan lahan pertanian dengan memanfaatkan teknologi terkini, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti Bulog dan sektor pupuk.

Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat sektor pertanian memiliki kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Bima Arya saat memberikan sambutan pada kegiatan Ground Breaking Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana Aceh-Sumatra di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, pada Kamis (15/1/2025). Acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, dan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah.

“Ini sangat signifikan, Pak Menteri Pertanian, karena Sumatra ini menyumbang 22 persen dari PDB Indonesia. Tentu, pemulihan (sawah) ini juga akan berdampak signifikan,” ujar Bima Arya.

Bima Arya menjelaskan, berdasarkan peninjauan dan dialog dengan para kepala daerah di wilayah terdampak bencana Sumatra, terdapat kesamaan testimoni bahwa dampak bencana kali ini dirasakan lebih luas dan berkepanjangan dibandingkan tsunami Aceh. “Dampaknya lebih dahsyat daripada tsunami, dalam hal cakupan luasan, lamanya bencana, dan juga dampak ekonomi. Terlebih seperti Bapak Presiden Prabowo selalu ingatkan kepada kegiatan kami, bergerak cepat, bergerak bersama-sama. Kita melihat bahwa hari ini, semua turun,” ungkapnya.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) berkomitmen untuk memastikan seluruh kepala daerah terdampak tidak berjuang sendiri dalam proses pemulihan. Pendampingan dilakukan secara langsung dengan pembagian peran yang jelas dan berkelanjutan. “Saya sendiri sudah berusaha bolak-balik, Aceh Tamiang, Langsa, sekelilingnya, untuk mendampingi bersama-sama dengan kepala daerah, memastikan celah-celah apa saja yang masih belum tersentuh,” tegas Bima Arya.

Dalam upaya pemulihan, Kemendagri juga telah mengerahkan 1.138 Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membantu pemulihan pusat pemerintahan di Aceh Tamiang yang sempat lumpuh akibat bencana. Keterlibatan lintas kementerian dan lembaga turut diperkuat melalui pengerahan personel TNI-Polri serta taruna dari berbagai kementerian.

Advertisement

“Ada juga teman-teman taruna, dalam kegiatan Latsitarda, taruna TNI-Polri dan praja IPDN, yang juga segera bergerak di titik-titik yang berdampak. Dan kemarin Menteri KKP juga melepas taruna KKP, Ibu Ketua (Komisi IV DPR RI), seribu lebih juga [taruna] dikerahkan untuk membantu pemulihan,” papar Bima Arya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi Aceh. Dukungan tidak hanya terbatas pada bantuan pangan darurat, tetapi juga mencakup program rehabilitasi lahan, pemulihan produksi pertanian, serta penyediaan sarana dan prasarana agar petani dapat kembali berproduksi secara berkelanjutan.

Untuk mendukung percepatan rehabilitasi lahan sawah di Aceh Utara, Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan berupa:

  • Pupuk urea: 200 ton
  • Benih padi: 836 ton
  • Traktor roda dua: 32 unit
  • Traktor roda empat: 11 unit

“Insyaallah kita kerjakan perbaikan sawah rusak mulai yang ringan, sedang, baru terakhir yang berat. Berat hanya 5 sampai 10 persen. Kami selesaikan yang 90-95 persen agar saudara-saudara kita yang sawahnya kena dampak kita akan perbaiki. Itu ada bantuan benih gratis. Kemudian ini padat karya, rakyat yang bekerja, yang punya sawah bekerja kemudian upahnya dibayar oleh pusat. Kami sebagai penanggung jawab,” jelas Amran Sulaiman.

Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya, Amran Sulaiman, dan Titiek Soeharto meninjau langsung hamparan sawah terdampak serta berdialog dengan para petani. Endapan lumpur tebal akibat banjir bandang pada akhir November lalu masih menutup sebagian lahan pertanian, menegaskan urgensi percepatan pemulihan agar aktivitas pertanian dan penghidupan petani dapat kembali berjalan normal.

Advertisement