BANJARBARU, KALSEL – Dapur balai latihan kerja (BLK) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kotabaru, Kalimantan Selatan, menjadi pusat aktivitas para warga binaan pemasyarakatan (WBP) dalam mengolah telur asin bermerek dagang La New City. Kegiatan ini tidak hanya membekali mereka dengan keterampilan baru, tetapi juga membuka peluang produktivitas di balik tembok penjara.
Proses Produksi Telur Asin La New City
Proses pembuatan telur asin La New City melibatkan para napi secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku telur bebek, pencucian, hingga pengamplasan cangkang. Tahap selanjutnya adalah pembuatan adonan pasta atau lumpur pengasin, yang kemudian digunakan untuk membalur telur. Setelah melalui proses pengasinan, telur-telur tersebut ditata rapi untuk siap dikonsumsi dan dikemas.
Seorang napi berinisial N mengungkapkan rasa bangganya terhadap keterampilan yang didapat. “Setiap tahap produksi membuat saya semakin terampil dan disiplin. Kami belajar menjaga kualitas dan bekerja dengan standar yang jelas,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kegiatan ini memberi kami kesempatan untuk tetap produktif dan menyiapkan diri menghadapi masa depan.”
Dari Pelatihan Menjadi Produk Unggulan
Awalnya, Lapas Kotabaru hanya fokus pada pelatihan dan pembinaan keterampilan di bidang olahan pangan. Melihat potensi dan kemampuan para napi, pihak lapas kemudian melengkapi persyaratan agar telur asin dapat dijual ke masyarakat luas. Produk ini telah mengantongi sertifikat P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan sertifikat halal, menjamin kualitas dan keamanannya.
Kepala Lapas Kotabaru, Doni Handriansyah, menyatakan komitmennya untuk membekali WBP dengan keterampilan nyata. “Kami dorong agar Warga Binaan memiliki keterampilan nyata yang dapat dimanfaatkan untuk hidup mandiri dan produktif saat kembali ke masyarakat,” kata Doni pada Kamis (29/1/2026).
Napi berinisial PM, yang juga terlibat dalam produksi, merasakan kebahagiaan saat produk buatannya diminati. “Melalui kegiatan ini, saya belajar keterampilan baru dan cara menghasilkan produk yang disukai masyarakat. Semoga dengan adanya kegiatan ini, saya dapat lebih baik,” harap PM.
Pengawasan dan Pengembangan Berkelanjutan
Petugas Pembina Kemandirian, Aprilita Dwi Imasari, mengawasi langsung setiap tahapan produksi. “Setiap tahap produksi dilakukan dengan teliti, mulai dari pemilihan bahan baku, perendaman, hingga proses pengasinan. Kami ingin agar produk yang dihasilkan tidak hanya layak jual, tetapi juga memiliki kualitas yang bisa dibanggakan,” jelas Aprilita.
Kegiatan ini juga memberikan kontribusi positif berupa premi dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang mendukung operasional dan pembinaan di Lapas. “Kami ingin setiap hasil karya warga binaan tidak berhenti di dalam tembok Lapas saja. Melalui pembinaan yang terarah, kami dorong agar produk-produk seperti La-New City Craft dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem UMKM yang mandiri dan berdaya saing,” tutur Doni.
Program ini sejalan dengan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto, yang berfokus pada peningkatan pendayagunaan WBP untuk menghasilkan produk UMKM yang berkelanjutan dan berdaya saing di pasaran.






