Pandeglang – Banjir yang disebabkan oleh cuaca ekstrem masih menggenangi Kecamatan Patia dan Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten, hingga hari kelima. Ketinggian air di beberapa titik dilaporkan hampir mencapai sepinggang orang dewasa.
Warga Mengungsi dan Kebutuhan Logistik Mendesak
Kepala Desa Idaman, Kecamatan Patia, Ilman, menyatakan bahwa kondisi banjir yang belum surut ini telah memaksa sebagian warganya untuk mengungsi. “Sudah lima hari,” ujar Ilman pada Rabu (14/1/2026), merujuk pada lamanya genangan air di wilayahnya. Ia menambahkan, “Ada tiga titik pengungsian.”
Ilman mengungkapkan keprihatinan atas ketersediaan logistik bagi para pengungsi. Bantuan yang diterima dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang sejauh ini hanya berupa beras dan mi instan. “Mungkin jaraknya jauh, dari BPBD, Dinsos, belum ada telur atau lauk pauk, seadanya aja ini,” keluhnya, mengindikasikan kebutuhan mendesak akan bahan makanan lain.
Ancaman Penyakit Kulit dan Keterbatasan Akses Kesehatan
Genangan air yang tinggi tidak hanya menimbulkan kesulitan mobilitas, tetapi juga mulai berdampak pada kesehatan warga. Ilman melaporkan bahwa warga mulai terserang penyakit kulit akibat banjir tersebut. Ia sangat berharap pihak terkait dapat segera mendirikan posko kesehatan di lokasi terdampak.
“Di sini belum ada yang standby dari puskesmas mah, ada juga bidan desa di rumahnya,” kata Ilman, menjelaskan bahwa saat ini warga hanya bisa mengandalkan bidan desa untuk mendapatkan penanganan medis awal. Ia berharap posko kesehatan dapat segera didirikan agar warga mudah berobat.
Puskesmas Kesulitan Menjangkau Lokasi, Obat-obatan Tetap Tersedia
Kepala UPT Puskesmas Patia, Nuraeni, mengakui adanya kendala dalam menjangkau wilayah Desa Idaman akibat arus lalu lintas yang tergenang air. Meskipun demikian, Nuraeni memastikan bahwa pasokan obat-obatan untuk penanganan penyakit akibat banjir tetap aman.
“Itu aksesnya susah, bidan desa udah standby di situ, posko itu di bidan desa,” jelas Nuraeni. Ia menambahkan bahwa warga yang mengalami penyakit kulit atau keluhan kesehatan lainnya dapat mendatangi bidan desa masing-masing. “Tiap desa ada dua tenaga medis,” imbuhnya, memastikan ketersediaan tenaga medis di tingkat desa.






