Jakarta – Ganis Samoedra Murharyono, Strategic Partner Manager Google for Education, mengungkapkan pertemuan dengan mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim. Dalam pertemuan tersebut, Nadiem disebut telah menyepakati penggunaan Chromebook. Kesaksian ini disampaikan Ganis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Selasa (20/1/2026).
Sidang ini menghadirkan terdakwa Mulyatsyah selaku Direktur SMP Kemendikbudristek 2020, Sri Wahyuningsih selaku Direktur Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah tahun 2020-2021, serta Ibrahim Arief alias Ibam selaku tenaga konsultan. Ganis menjelaskan bahwa hanya atasannya yang diizinkan masuk ke ruang pertemuan dengan Nadiem.
Pertemuan itu diperkirakan terjadi pada November 2019. Hal ini relevan mengingat Nadiem menjabat sebagai Mendikbudristek sejak Oktober 2019, sebagaimana tercantum dalam surat dakwaan.
Detail Pertemuan dan Kesepakatan
Jaksa penuntut umum mencecar Ganis mengenai detail pertemuan. “Pernah tidak Collin Marson bersama Putri Alam datang menemui Nadiem Anwar Makarim di Kementerian?” tanya jaksa. “Iya pernah,” jawab Ganis.
Jaksa kembali bertanya mengenai waktu pertemuan. “Kapan itu?” tanya jaksa. “Tepatnya saya kurang tahu pasti mungkin sekitar tahun 2020 awal,” jawab Ganis. Jaksa kemudian mengkonfrontasi dengan keterangan sebelumnya. “Di sini (keterangan) Saudara November 2019?” tanya jaksa. “Mungkin saya salah mengingat,” ujar Ganis.
Ganis mengonfirmasi bahwa Nadiem bertemu dengan Collin Marson, yang saat itu menjabat sebagai Head of Google For Education untuk Asia Tenggara. Ganis juga membenarkan isi berita acara pemeriksaan (BAP) yang menyatakan Collin menyampaikan bahwa Nadiem telah menyepakati penggunaan Chromebook.
“Dari pertemuan tersebut, Saudara ikut masuk atau hanya bos kalian? Bos kamu?” tanya jaksa. “Hanya bos saya, saya tidak ikut hadir dalam pertemuan tersebut,” jawab Ganis.
Lebih lanjut, Ganis membenarkan keterangan dalam BAP tertanggal 28 Agustus, poin 7 halaman 5. “Dari pertemuan tersebut saya dipanggil oleh Collin Marson bahwa Nadiem Anwar Makarim sudah sepakat menggunakan produk-produk Google for Education, salah satunya penggunaan Chromebook untuk setiap sekolah yang ada di Indonesia dan spesifikasi teknis yang akan menggunakan Chrome OS’. Benar keterangan ini?” tanya jaksa. “Benar, Pak,” jawab Ganis.
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Putri Ratu Alam selaku Senior Manajer Hubungan Pemerintah dan Kebijakan Publik PT Google Indonesia. Diskusi dalam pertemuan itu mencakup produk Google for Education, termasuk Chromebook, Google Workspace, dan Google Cloud. “Lalu berikutnya di situ Saudara sebutkan juga, pertemuan Collin Marson, Putri Ratu Alam, dan Nadiem itu membahas produk-produk Google for Education, Chromebook, Google Word Space, dan Google Cloud. Benar ya?” tanya jaksa. “Betul,” jawab Gansi.
Kerugian Negara dalam Kasus Pengadaan Laptop
Sebelumnya, sidang dakwaan terhadap Ibam, Mulyatsyah, dan Sri telah digelar pada Selasa (16/12/2025). Jaksa mendakwa ketiganya telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,1 triliun.
Menurut jaksa, kerugian negara sebesar Rp 2,1 triliun tersebut berasal dari beberapa komponen. Pertama, kemahalan harga laptop Chromebook sebesar Rp 1.567.888.662.716,74 (sekitar Rp 1,5 triliun). Kedua, pengadaan Chrome Device Management (CDM) yang dinilai tidak diperlukan dan tidak bermanfaat, dengan kerugian sebesar USD 44.054.426 atau sekitar Rp 621.387.678.730 (sekitar Rp 621 miliar).
“Yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 1.567.888.662.716,74 berdasarkan laporan hasil audit penghitungan kerugian keuangan negara atas perkara dugaan tindak pidana korupsi program digitalisasi pendidikan pada Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi Tahun 2019 sampai dengan 2022 Nomor PE.03.03/SR/SP-920/D6/02/2025 tanggal 04 November 2025 dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Republik Indonesia,” papar Jaksa Roy Riady saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.
“Dan kerugian keuangan negara akibat pengadaan Chrome Device Management yang tidak diperlukan dan tidak bermanfaat pada Program Digitalisasi Pendidikan pada Kemendikbudristek RI Tahun 2019 sampai dengan 2022 sebesar USD 44.054.426 atau setidak-tidaknya sebesar Rp 621.387.678.730,” tambahnya.






