Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyalurkan bantuan terpadu dari Presiden dan Kementerian Dalam Negeri ke Kabupaten Aceh Tamiang pada Sabtu (24/1/2026). Penyaluran ini bertujuan untuk mempercepat pemulihan pascabencana dan menjadi bagian dari upaya terintegrasi pemerintah pusat dan daerah dalam memulihkan fungsi pemerintahan, layanan publik, serta aktivitas sosial-ekonomi masyarakat.
Bantuan Alat Berat dan Peralatan Lapangan
Bantuan dari Presiden yang disalurkan berupa sembilan unit alat berat jenis skid steer loader. Alat ini dirancang khusus untuk menjangkau gang-gang sempit tanpa merusak bangunan warga, sehingga mempercepat pembersihan lumpur di permukiman. Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri memperkuat dukungan bantuan lapangan dengan menyumbangkan 5.000 pasang sepatu bot, 3.000 unit gerobak dorong (lori), 1.000 sekop, dan 1.000 cangkul.
“Sebanyak skid loader 9 unit yang kelasnya bukan kelas besar, tapi kelas mini untuk masuk ke gang-gang, karena kalau yang besar itu nanti malah merobohkan rumah,” kata Tito dalam keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026). Pernyataan ini disampaikan saat kunjungannya ke Kompleks Kantor Bupati Aceh Tamiang, Aceh, yang turut didampingi Bupati Armia Pahmi.
Kondisi Aceh Tamiang Pasca-Bencana
Tito menegaskan bahwa Aceh Tamiang merupakan salah satu wilayah yang terdampak cukup berat akibat bencana banjir dan lumpur. Pusat pemerintahan, berbagai fasilitas publik, rumah sakit, sarana pendidikan, pasar, hingga rumah penduduk turut terlanda.
“Aceh Tamiang adalah salah satu daerah yang terdampak, cukup berat, karena ibu kotanya yang terkena banjir dan lumpur-lumpur masih banyak. Ada pemerintahan, kantor pemerintahan yang terdampak, fasilitas publik, rumah sakit, pendidikan, pasar, termasuk rumah penduduk, dan lain-lain,” jelas Tito.
Ia menambahkan bahwa sejak hari pertama pascabencana, pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta berbagai kementerian dan lembaga telah bergotong royong. Kondisi Aceh Tamiang kini menunjukkan perkembangan signifikan dibandingkan masa awal bencana.
“Listrik lancar, internet juga lancar, BBM, SPBU ada tiga, kalau saya tidak salah, di kota ini juga buka. Kemudian internet, sekali lagi sudah on. Mungkin persoalan air minum masih jadi problem. Dan kemudian ekonomi yang tadinya betul-betul terdampak, hampir bisa dikatakan lumpuh waktu awal, sekarang kita lihat toko-toko, warung-warung sudah buka,” ucapnya.
Percepatan Pemulihan dan Dukungan Anggaran
Tito menekankan bahwa percepatan pemulihan perlu diperkuat dengan penambahan alat berat untuk pembersihan lumpur dan penambahan personel di lapangan. Dukungan pasukan telah ditingkatkan, terutama dari TNI dan Polri. Selain itu, personel dari sekolah-sekolah kedinasan juga dikerahkan untuk membantu proses pemulihan.
“Saya juga sudah memberikan arahan kepada taruna yang sedang melaksanakan Latsitarda, baik dari taruna TNI: Akmil, AL, AU, dan Akpol, juga ada dari Kadet Universitas Pertahanan, serta dari Politeknik Siber dan Sandi Negara, jumlahnya 1.788. Nah, inilah bagian dari upaya kita untuk memulihkan Aceh Tamiang,” ungkap Tito.
Dari sisi anggaran, pemerintah pusat telah mengalokasikan dukungan keuangan. Kementerian Sosial memberikan bantuan untuk biaya harian sebesar Rp15 ribu, biaya perabotan Rp3 juta, dan stimulan ekonomi Rp5 juta. Anggaran Transfer ke Daerah (TKD) tahun 2026 dikembalikan seperti tahun 2025, dengan total lebih dari Rp10 triliun untuk tiga provinsi terdampak, termasuk Aceh.
“Sekali lagi [semoga] sumbangan atau bantuan dari Bapak Presiden ini kiranya bisa meringankan dan bisa percepat pemulihan di Aceh Tamiang ini. Satu-satunya pemerintahan yang belum berjalan normal sepenuhnya, kalau selain itu sudah normal,” pungkasnya.






