Fenomena sejumlah kader Partai NasDem yang memilih bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belakangan ini menjadi sorotan publik. Salah satu nama yang santer dikabarkan akan menyusul adalah Wakil Ketua Komisi III DPR, Rusdi Masse Mappasessu, menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar pada akhir Januari 2026. Sebelumnya, mantan Waketum NasDem, Ahmad Ali, telah lebih dulu menghebohkan publik dengan keputusannya bergabung ke partai pimpinan Kaesang Pangarep pada September 2025.
Ahmad Ali, yang kala itu memegang posisi strategis di NasDem, menyatakan alasannya bergabung dengan PSI. “Ini partai harapan ke depan. Saya nggak boleh menafikan bahwa di situ (NasDem) tempat saya memulai, saya bisa jadi seperti ini karena Partai NasDem. Jadi ke depan saya melihat bahwa PSI di sini akan lebih bertumbuh lebih baik menurut saya,” ujar Ali seusai pelantikan di sebuah teater kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (26/9/2025).
Bersamaan dengan Ahmad Ali, eks kader NasDem lainnya, Bestari Barus, juga memutuskan bergabung dengan PSI. Bestari menilai bahwa dalam sistem perpolitikan Indonesia, berpindah partai merupakan hal yang sangat dimungkinkan, terutama untuk tujuan strategis. “Dan begini, saya kira dalam sistem perpolitikan kita ini Ini sangat dimungkinkan bahwa pertemuan antara 1-2 partai atau bahkan lebih dari itu, dimungkinkan terjadi dalam hal-hal yang strategis. Pilkada kah? Kemudian Pemilu damai kah? Kita bertemu juga pilpres kah? Untuk kemudian ada peluang-peluang berkoalisi karena kesamaan pandang,” jelasnya.
Jika Rusdi Masse benar-benar bergabung, ia akan menambah daftar politikus NasDem yang hijrah ke PSI. Rusdi Masse saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR, menggantikan Ahmad Sahroni yang terseret polemik gelombang demo pada Agustus 2025.
Analisis Perpindahan Kader
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, memaparkan sejumlah faktor yang mungkin memengaruhi Rusdi Masse dan kader NasDem lainnya untuk pindah ke PSI.
Faktor Kawan Seperjuangan
Adi Prayitno menilai faktor kedekatan personal atau kawan seperjuangan menjadi salah satu pemicu utama. “Sepertinya karena faktor kawan seperjuangan. Setelah Ahmad Ali hengkang ke NasDem login ke PSI, banyak pihak yang memprediksi bahwa pengurus NasDem yang dinilai kawan seperjuangan dengan Ahmad Ali bakal pindah ke PSI. Bestari Barus, contoh nyata, dan bahkan jika betul Rusdi Masse ke PSI juga makin mempertebal bahwa kawan-kawan seperjuangan Ahmad Ali ke PSI,” kata Adi saat dihubungi, Sabtu (24/1/2026).
Mencari Tantangan Baru dan Loloskan PSI ke Parlemen
Adi juga berpendapat bahwa Rusdi Masse mungkin mencari tantangan baru dengan bergabung ke PSI. Berbeda dengan NasDem yang sudah mapan dan memiliki kursi di parlemen, PSI belum pernah berhasil menembus Senayan. “Jika betul pada akhirnya Rusdi Masse ke PSI sepertinya ingin mencoba tantangan baru ingin turut serta meloloskan PSI ke parlemen. Kalau NasDem kan partai yang sudah mapan, sudah kuat strukturnya dan sejak lama sudah lolos ke Senayan. Sementara PSI belum pernah lolos parlemen,” tuturnya.
Faktor Keluarga
Faktor lain yang dianalisis Adi adalah kedekatan Rusdi Masse dengan putranya yang kini menjabat sebagai Ketua DPW PSI Sulawesi Selatan. Ia menduga Rusdi Masse ingin memberikan bimbingan langsung kepada putranya. “Bisa saja karena faktor ingin mendidik putranya yang jadi Ketua DPW PSI Sulsel agar jadi politisi besar. Apa pun judulnya, berjuang dengan partai tak lolos ke parlemen bukan perkara mudah, butuh nyali, ketekunan, dan daya tahan di atas rata-rata,” ungkapnya.
Peran Ahmad Ali dan Jokowi
Ketua DPP PSI, Bestari Barus, mengamini bahwa sosok Ahmad Ali menjadi salah satu daya tarik bagi kader NasDem untuk bergabung ke PSI. Ia mengakui pengalaman politik Ahmad Ali sebagai tokoh senior di NasDem memberikan pengaruh.
“Kalau memang terlihat, saya tidak menafikan bahwa NasDem cukup banyak ya, mayoritas lah. Ya salah satu penariknya mungkin ya dengan bergabungnya Pak Ahmad Ali kali ya ke PSI, gitu. Kemudian menginspirasi banyak pihak,” kata Bestari saat dihubungi, Minggu (25/1/2026).
Selain Ahmad Ali yang kini menjabat Ketua Harian PSI, Bestari juga menyebut peran Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), turut menjadi pertimbangan bagi sebagian orang yang memilih PSI. “Tapi kalau karena Pak Jokowi-nya juga banyak juga. Dari dulu tidak berpartai kemudian ikut berpartai pilihannya PSI, banyak. Dan mudah-mudahan kami berharap ya kalau dikaitkan juga dengan Rusdi Masse, Rusdi Masse itu ya satu dari sekian banyak yang akan bergabung,” sambungnya.
Motivasi Pribadi dan Legitimasi Partai
Bestari Barus menekankan bahwa keputusan bergabung dengan partai politik, termasuk PSI, adalah hak privat setiap individu yang tidak bisa diintervensi. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri yang mencari legitimasi politik setelah dua periode tidak berada dalam kepengurusan partai.
“Kan saya sudah pernah sebutkan ya bahwa bergabung, tidak bergabung, berpindah dari satu partai politik itu murni adalah hak privat. Dari siapapun gitu ya, yang tidak bisa diintervensi. Ya kan seiring perjalanan daripada kami yang telah katakanlah mendahului bergabung dengan PSI, bahkan masing-masing kami pun berbeda motivasinya gitu,” jelasnya.
Ia menambahkan, “Kalau saya kan jelas bahwa selama dua kurun, dua apa kongres, saya tidak pernah ada di dalam kepengurusan sehingga saya mencari legitimasi atas hasrat politik saya yang masih tinggi, kan begitu.”
Bestari berharap bergabungnya tokoh-tokoh seperti Rusdi Masse akan memperkuat PSI. Ia juga mengungkapkan bahwa komunikasi intensif terus terjalin dengan kader-kader dari berbagai partai politik, tidak hanya dari NasDem, yang menunjukkan ketertarikan untuk bergabung.






