Pasangan selebritas Yulia Rahmayani dan Rifky Alhabsy akhirnya merasakan kebahagiaan setelah sembilan tahun menanti kehadiran buah hati. Yulia Rahmayani berhasil hamil anak pertama melalui program bayi tabung (IVF) setelah berjuang melawan infertilitas.
Perjuangan Melawan Infertilitas
Perjalanan Yulia Rahmayani untuk hamil tidaklah mudah. Ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk masalah pada saluran reproduksi yang mengharuskannya menjalani operasi pemotongan kedua tuba atau salpingektomi. Kondisi ini membuat kehamilan secara alami atau melalui inseminasi menjadi tidak memungkinkan.
Menyadari hal tersebut, Rifky Alhabsy memberikan dukungan penuh kepada istrinya untuk menjalani program bayi tabung. Pasangan ini mengungkapkan bahwa program IVF memerlukan persiapan fisik dan mental yang matang. Namun, dukungan dari keluarga dan tim medis menjadi kekuatan mereka dalam menjalani proses hingga membuahkan hasil yang diharapkan.
Harapan dan Syukur
“Sudah sembilan tahun kami menunggu. Rasanya campur aduk, antara takut berharap dan tidak ingin kecewa lagi,” ujar Yulia Rahmayani saat ditemui di Smart Fertility Clinic Evasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/1/2026).
Ia menambahkan, “Namun, saya bersyukur sekali akhirnya bisa mendapatkan kabar baik ini. Terima kasih untuk dokter dan seluruh tim Smart Fertility Clinic yang selalu mendampingi saya.” Yulia mengungkapkan rasa bahagianya didampingi oleh Rifky Alhabsy.
Proses Bayi Tabung di Smart Fertility Clinic
Pasangan ini memilih Smart Fertility Clinic di Jakarta untuk menjalani program bayi tabung. Mereka ditangani oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Darma Syanty, serta CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan.
Proses yang dijalani Yulia meliputi Prosedur Ovum Pick Up (OPU) pada 15 Februari 2025, dilanjutkan dengan Frozen Embryo Transfer (FET) pada 12 September 2025. Dua minggu setelah FET, kantong kehamilan yang menjadi tanda awal perkembangan kehidupan mulai terlihat.
Penjelasan Medis dan Dukungan Klinik
Dr. Darma Syanty menjelaskan, “Pada pasien dengan riwayat hidrosalping dan kedua tuba yang sudah tidak dapat berfungsi, IVF merupakan pilihan yang paling tepat. Dengan pemilihan protokol yang sesuai, kualitas embrio yang baik, serta kondisi rahim yang optimal saat FET, kehamilan tetap dapat dicapai.”
Sementara itu, dr. Laura Leandra Setiawan menekankan pentingnya kolaborasi tim. “Setiap keberhasilan yang diperoleh pasien merupakan hasil kerja kolaboratif antara dokter, perawat, embriolog, serta seluruh tim pendukung,” katanya.
Ia menambahkan, “Kami memahami perjalanan untuk memiliki buah hati bukanlah perjalanan yang mudah bagi banyak pasangan. Smart Fertility Clinic hadir tidak hanya dengan teknologi dan layanan medis terkini, tetapi juga dengan pendampingan dan empati.”
Di Indonesia, terdapat 59 klinik In Vitro Fertilization (IVF) yang siap membantu pasangan menjalani program bayi tabung.






