Polres Tanjung Jabung Timur dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi turun tangan untuk memediasi konflik antara seorang guru dan sejumlah siswa di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Insiden yang berujung pada adu jotos ini mencoreng dunia pendidikan di wilayah tersebut.
Proses Mediasi di Ruang Majelis Guru
Proses mediasi yang difasilitasi oleh unsur kepolisian, TNI, kejaksaan, dan perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi ini berlangsung di ruang majelis guru. Kapolres Tanjung Jabung Timur AKBP Ade Chandra menyatakan pihaknya berupaya mencari solusi terbaik agar permasalahan ini dapat diselesaikan secara adil dan kondusif. Ia juga menyesalkan terjadinya insiden tersebut dan menegaskan kepolisian masih mendalami kronologi kejadian untuk mendapatkan gambaran utuh.
Namun, dalam proses mediasi tersebut, guru yang terlibat, Agus Saputra, tidak hadir. Ini merupakan ketidakhadiran kedua kalinya dari undangan yang telah dilayangkan. Akibat insiden ini, aktivitas belajar mengajar di SMK Negeri 3 Berbak sempat dihentikan sementara.
Evaluasi Menyeluruh dari Dinas Pendidikan
Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Harmonis, menyampaikan pihaknya sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia menyatakan Dinas Pendidikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait tuntutan siswa dan sejumlah tenaga pengajar yang meminta agar guru bersangkutan tidak lagi mengajar di sekolah tersebut. “Kami segera melakukan evaluasi sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku,” ungkap Harmonis.
Di sisi lain, seorang siswa yang mengaku menjadi korban dalam insiden tersebut menyampaikan keributan bermula dari kesalahpahaman di dalam kelas. Peristiwa itu kemudian memicu emosi siswa lain hingga berujung pada aksi kekerasan. Pihak sekolah berharap persoalan yang terjadi dapat segera diselesaikan dengan baik sehingga proses belajar mengajar di SMK Negeri 3 Berbak dapat kembali berjalan normal.
Klarifikasi Guru Agus Saputra
Agus Saputra, guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, buka suara terkait peristiwa dugaan pengeroyokan oleh sejumlah siswanya. Kejadian itu terjadi pada Selasa (13/1) pagi saat kegiatan belajar berlangsung. Agus mengatakan dirinya menegur seorang siswa yang meneriakkan kata-kata tidak pantas kepadanya saat pembelajaran. “Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar,” kata Agus, dilansir detikSumbagsel, Kamis.
Agus melanjutkan, ia masuk ke kelas memanggil siswa yang meneriakinya. “Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia,” ujarnya. Menurut Agus, tindakan itu sebagai bentuk pendidikan moral. Namun, sang siswa bereaksi marah dan kejadian tersebut bergulir hingga dimediasi oleh guru-guru lainnya.
Sementara itu, di sisi lain sejumlah siswa mengaku Agus telah menghina salah satu murid dengan perkataan ‘miskin’ yang memicu keributan tersebut. Namun, menurut Agus, perkataan itu konteks motivasi dan tidak bermaksud menghina.






