JAMBI – Insiden tak terduga terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, ketika seorang guru bernama Agus Saputra terlibat adu jotos dengan sejumlah siswanya. Peristiwa yang terekam dalam video berdurasi 58 detik itu kemudian viral di media sosial dan berujung pada laporan polisi oleh sang guru atas dugaan penganiayaan.
Kronologi Awal dan Pemicu Keributan
Kejadian bermula saat Agus Saputra sedang memberikan materi pelajaran. Berdasarkan keterangan Agus, salah seorang siswa menegurnya dengan kata-kata tidak sopan dan meneriakkan kalimat yang tidak pantas. Merasa terhina, Agus masuk ke dalam kelas untuk mencari tahu siapa pelakunya. Setelah salah satu siswa mengaku, Agus mengaku refleks menampar siswa tersebut sebagai bentuk pendidikan moral. Namun, tindakan ini justru memicu kemarahan siswa tersebut dan berujung pada perkelahian.
Di sisi lain, beberapa siswa mengklaim bahwa keributan dipicu oleh ucapan Agus yang dianggap menghina salah satu murid dengan kata ‘miskin’. Agus membantah niat menghina, menyatakan ucapannya bersifat motivasi dan tidak bermaksud mengejek. “Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, ‘Kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam’. Itu secara motivasi pembicaraan,” ungkapnya.
Mediasi Gagal, Pengeroyokan Terjadi
Upaya mediasi yang melibatkan pihak sekolah, komite, serta unsur Muspika (Camat, Lurah, Kapolsek) sempat dilakukan. Dalam mediasi tersebut, Agus memberikan pilihan kepada siswa untuk membuat petisi jika tidak menginginkannya mengajar lagi, atau siswa harus berubah. Namun, siswa meminta Agus meminta maaf, sehingga mediasi menemui jalan buntu.
Setelah mediasi, saat Agus berjalan menuju ruang guru, ia mengaku dikeroyok oleh sejumlah siswanya. Akibat pengeroyokan tersebut, Agus mengalami memar di badan dan pipi. Ia kemudian melaporkan kejadian ini ke Polda Jambi.
Respons Pihak Berwenang dan Tindak Lanjut
Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Harmonis, menyatakan pihaknya telah meminta penjelasan dari kepala sekolah dan melakukan mediasi. “Kita sudah minta penjelasan dari kepsek, hari ini sudah dilakukan mediasi duduk bersama forum komunikasi kecamatan, ada camat, lurah, kapolsek, dan para siswa serta majelis guru,” katanya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti juga merespons kejadian ini. Ia menyatakan bahwa dinas pendidikan setempat bersama pihak terkait telah menangani masalah tersebut. “Masalah sudah diselesaikan oleh dinas pendidikan setempat dengan pihak-pihak terkait,” ujar Mu’ti.
Polres Tanjung Jabung Timur dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi juga berupaya melakukan mediasi. Kapolres Tanjung Jabung Timur AKBP Ade Chandra menyatakan pihaknya menyesalkan insiden tersebut dan masih mendalami kronologi kejadian. Namun, guru Agus dilaporkan tidak hadir dalam dua kali undangan mediasi.
Guru Agus Lapor Polisi
Tidak adanya titik temu dalam mediasi, guru Agus Saputra akhirnya resmi melapor ke Polda Jambi pada Kamis (15/1) malam, didampingi kakak kandungnya, Nasir. Laporan tersebut terkait dugaan kasus pengeroyokan yang dialaminya. Agus menjalani pemeriksaan selama lima jam di SPKT Polda Jambi dan telah melakukan visum.
Nasir menjelaskan alasan adiknya mengambil langkah hukum. “Karena sudah viral ini, ya, ada yang merugikan adik saya secara mental. Psikisnya terganggu, nama baiknya tercoreng di media sosial dan warga. Jadi kami sebagai warga negara berhak melaporkan tindakan pengeroyokan ini,” ujar Nasir.
Akibat insiden ini, aktivitas belajar mengajar di SMK Negeri 3 Berbak sempat dihentikan sementara. Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait tuntutan siswa dan tenaga pengajar agar guru bersangkutan tidak lagi mengajar di sekolah tersebut.






